MAKALAH SEJARAH TENTANG MODUL PAHAM-PAHAM BARU DAN KESADARAN KEBANGSAAN INDONESIA

Modul
Paham-paham Baru dan Kesadaran Kebangsaan Indonesia

Salah satu alas an yang paling dapat diterima mengapa colonialisme dan imperialisme sangat kuat bercokol di tanah jajahan adalah alasan perdagangan. Disamping agar penjajah bisa mengeruk kekayaan negara terjajah, juga mereka ingin menjadikan negara jajahan sebagai tempat pemasaran bagi hasil-hasil produksi industri yang dikerjakan di negerinya. Sikap-sikap ekspansif seperti inilah yang mendorong bangsa Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, dan Rusia untuk melakukan penjajahan. Namun, setelah bertahun-tahun bahkan berabad-abad dikekang oleh penindasan, pemerasan, perampokan, pemerkosaan hak atas hidup secara materil dan moril, bangsa-bangsa terjajah serentak bangun.
Bangsa-bangsa terjajah di Asia, Afrika dan Amerika tampil memekik ”merdeka” ”Usir bangsa kolonis dan imperialis dari negeri kita!” Mengapa mereka berontak setelah sekian abad seolah-olah terlelap dalam seribu kepahitan yang melilitnya? Ada sejumlah alasan yang bisa dikemukakan. Tetapi yang jelas bahwa dasar dari seluruh gerakan nasionalisme dan pergerakan kemerdekaan di negeri-negeri terjajah itu kaena pengaruh langsung dan tidak langsung dari beberapa paham baru yang berkembang di Eropa dan menyebar ke negeri-negeri jajahan. Pada modul ini, kita akan membahas faham-faham baru tersebut seperti Nasionalisme, Liberalisme, Demokrasi, Sosialisme dan Pan-Islamisme.
Marilah kita mengupas satu-persatu perkembangan paham-paham baru di Eropa dan dunia, pengaruh faham-faham baru itu secara khusus di Asia dan Afrika menimbulkan nasionalisme negara-negara Asia dan Afrika.

a.    Liberalisme
Paham liberalisme merupakan paham yang mengutamakan kebebasan dan kemerdekaan individu. Istilah liberalisme berasal dari bahasa Latin, libertas yang artinya kebebasan, dalam bahasa Inggris liberty artinya kebebasan. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan individu untuk memiliki tempat tinggal, mengeluarkan pendapat dan berkumpul.
Di Eropa liberalisme didukung oleh kaum borjuis dan kaum terpelajar di kota. Akan tetapi, yang terpenting dalam liberalisme adalah individu. Masyarakat harus mementingkan Individu, karena masyarakat itu terdiri atas individu-individu dan karena itu masyarakat adalah akibat adanya individu. Kemerdekaan individu harus dijamin. Pada hakikatnya paham liberalisme ini timbul karena reaksi terhadap penindasan yang dilakukan oleh kaum bangsawan dan kaum agamadi zaman absolute monarchie. Orang ingin melepaskan dirinya dari kekangan manusia, ini dikemukakan oleh Rousseou dalam bukunya ”Du Contat Sosial”. Terhadap kaum bangsawan liberalisme menuntut kemerdekaan ekonomi, terhadap kaum agama liberalisme menuntut kemerdekaan beragama. Dalam lapangan politik liberalisme menuntut adanya demokrasi (menuntut adanya UUD, pemilu, kemerdekaan pers, berbicara mengemukakan pendapat dan beragama). Selain demokrasi liberalisme dalam politik mengutamakan kemerdekaan (nasionalisme) negara atas individu, karena tiap negara harus merdeka, tidak boleh ditindas negara lain dan siapa pun juga. Negara berhak untuk menentukan nasibnya sendiri. Selanjjutnya liberalisme dalam ekonomi menuntut atas ekonomi bebas (produksi bebas, perdagangan bebas, hukum kodrat akan menyelenggarakan harmoni dunia) dengan semboyan ”Laisser faire, laisser passer, le monde va luimeme”.
Dalam bidang ekonomi dituntut adanya ekonomi bebas tanpa campur tangan pemerintah dan dalammenentukan kebutuhan adalah hak milik swasta. Sebagai pahlawan liberalisme adalah ekonom dari Inggris, Adam Smith dalam bukunya ”Wealth of Nation” 1776. Pendapatnya, kesejahteraan umum dapat dicapai Apabila diberikan kebebasan kepada setiap individu untuk berusaha tanpa campur tangan dari pihak pemerintah.

b.    Sosialisme
Sosialisme adalah paham yang menghendaki suatu masyarakat yang disusun secara kolektif agar menjadi suatu masyarakat yang sejahter/bahagia. Kata sosialisme dari bahasa Latin, socius artinya kawan. Tujuan sosialisme adalah untuk mewujudkan masyarakat sosialis  dengan jalan mengendalikan secara kolektif sarana produksi dan memperluas tanggung jawab negara bagi kesejahteraan rakyat. Tokoh pemikir ssosialisme adalah Robert Owen, seorang pengusaha Inggris yang menulis buku ”A New of Society an Essay on the Formation on Human Character” ia yang pertama menggunakan istilah sosialisme. Tokoh lainnya adalah Saint Simon, Pieere Proudon, Charles Feourier, dan Karl Mark. Seorang yang dikenal sebagai bapak sosialisme adalah Karl Mark dalam tulisannya “Das Kapital” yang mengatakan bahwa sejarah masyarakat merupakan perjuangan-perjuangan kelas, semboyan mereka “bersatulah kaum proletar/buruh sedunia”.
Sosialisme merupakan faham yang tidak memusatkan perhatiannya pada individu, tetapi pada masyarakat secara keseluruhan. Faham sosialisme melihat orang lain sama derajat dan kedudukannya dengan dirinya. Sosialisme menghendakisuatu masyarakat yang disusun secara kolektif (oleh kita semua, untuk kita semua) agar tercipta sebuah masyarakat yang bahagia.
Faham sosialisme timbul sebagai reaksi terhadap liberalisme yang terjadi di dunia pada abad ke-19. Ketika itu, para pendukung liberalisme, yaitu kaum kelas menengah (middle class) yang memiliki industri, perdagangan, serta pengaruh terhadap masyarakat dan pemerintahan hidup bergelimang harta dan meluapkan kaum buruh serta rakyat jelata yang menjadi penggerak industri-industri yang mereka punyai tersebut. Ketidak adilan itu memunculkan reaksi dari kaum buruh terhadap golongan majikan atau kelas menengah.

c.    Pan-Islamisme
Pan-Islamisme merupakan sebuah faham yang dirumuskan oleh tokoh Islam Jamaluddin Al-Afghani dari Afghanistan pada akhir abad ke-19. Pada dasarnya, pan-islamisme merupakan sebuah cita-cita manifestasi dari prinsip-prinsip Islam mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan antara umat Islam di seluruh dunia, atau lazim disebut dengan istilah al-wahdah al-Islamiyyah atau al-ittihad al Islamiyyah. Prinsip tersebut melihat bahwa umat Islam merupakan sebuah entitas yang utuh dan universal dari seluruh penjuru dunia, tanpa kecuali. Persatuan Islam yang dicanangkan oleh paham pan-islamisme ini mengeliminasi adanya perbedaan bahasa, etnis, atau bidaya yang terdapat di dalam masyarakat Islam di seluruh dunia. Akan tetapi, cita-cita dari paham pan-islamisme untuk mewujudkan sebuah al-jama’ah al-Islamiyyah (persatuan umat Islam) mendapat halangan. Hal itu karena pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, negara-negara Islam atau negara-negara yang mayoritas berpenduduk umat Islam sedang dilanda bencana kolonialisme dan imperialisme dari bangsa-bangsa Barat.
Paham tentang penyatuan dunia Islam yang menjadi inti dari pan-Islamisme, menjadi lebih tegas pada pemikiran Jamaluddin Al Afghani. Ide Pan-Islamisme erat kaitannya dengan kondisi abad ke-19. pada abad ini terjadi kemunduran di negara Islam, sebaliknya di negara Barat terjadi kemajuan disertai pengembangan kekuasaan (penjajahan). Jamaluddin melihat penjajahan terhadap negara Islam ini harus dilawan apabila mereka bersatu. Contoh campur tangan Inggris di Afghanistan, Mesir, Irak, dan Iran. Hal ini menambah keyakinan bahwa Islam harus bersatu, upaya penyatuan dunia Islam ini disebut Pan-Islamisme. Pan Islamisme sebagai ide telah memperoleh dukungan hampir semua pemimpin Islam tokoh intelektual. Pan-Islamisme memberi inspirasi bagi negeri-negeri Islam untuk mengadakan gerakan nasional bagi negaranya dalam melawan penjajahan.

d.    Demokrasi
Demokrasi berasal dari bahasa Yunani demos artinya rakyat dan kratos artinya pemerintahan. Jadi demokrasi dalam arti sempit pemerintahan di tangan rakyat. Dalam arti luas demokrasi sebagai suatu sistem pemerintahan yang mengakui hak segenap anggota masyarakat untuk ikut memengaruhi keputusan politik baik langsung atau tidak langsung. Kondisi yang memengaruhi terciptanya demokrasi adalah:
1)    adanya kesepakatan bersama dalam masalah yang fundamental, dan
2)    upaya yang memungkinkan kebebasan politik tumbuh di tengah negara.
 Demokrasi mula-mula diterapkan di Yunani Kuno yakni demokrasi langsung, kemudian berkembang ke negara Eropa lainnya kemudian juga ke Indonesia. Jenis demokrasi ada 4, yaitu:
1)    demokrasi parlementer,
2)    demokrasi pemisahan kekuasaan,
3)    demokrai presidensial, dan
4)    demokrasi melalui referendum.
Seorang cendekiawan dari Inggris yang memperjuangkan demokrasi adalah Jihn Locke 1632-1704, dalam bukunya berjudul ”Two Treaties on Government”, John Locke membenarkan perjuangan rakyat Inggris menentang kekuasaan mutlak raja. Menurut John Locke pemerintah hanyalah alat yang dibentuk untuk menjamin kepentingan rakyat terhadap politis, mencakup hak individu, hak politik, hak atas kebebasan, dan hak milik. Demokrasi merupakan hal yang dinamis maju, sebab negara selain mengurus kepentingan bersama juga bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Dalam demokrasi menuntut adanya:
1)    UUD
2)    Pemilu
3)    Kemerdekaan pers
4)    Kemerdekaan berbicara, berkumpul, dan mengemukakan pendapat
5)    Kebebasan beragama.

e.    Nasionalisme
Nasionalisme adalah paham yang memandang bahwa kelompok-kelompok di suatu bangsa memiliki kesamaan budaya, bahasa, wilayah, cita-cita dan tujuan. Istilah nasionalisme berasal dari kata bahasa Latin natio yang berarti ’kelahiran’ atau ’macam-macam ikatan yang didasarkan pada satu garis keturunan yang sama’. Arti kata natio kemudian mengalami perubahan. Dalam bahasa Inggris, natio berubah menjadi nation yang berarti ’bangsa’ atau ’sekelompok manusia yang tinggal di suatu daerah tertentu, memiliki kasadaran untuk bersatu karena memiliki nasib, cita-cita, dan tujuan yang sama’. Dengan demikian, nasionalisme berarti perasaan cinta dari semua komponen bangsa terhadap bangsa dan tanah airnya yang timbul karena kesamaan sejarah, agama, bahasa, kebudayaan, pemerintahan, tempat tinggal dan berkeinginan untuk mempertahankan serta mengembangkannya sebagai milik bersama.
Tokoh nasionalisme adalah Joseph Ernest Renan, Otto Bpuer, Hans Kohn, dan Louis Sneyde. Hans Kohn berpendapat nasionalisme adalah kesetiaan tertinggi individu yang diserahkan kepada bangsa dan negaranya. Munculnya nasionalisme dipengaruhi oleh:
1)    Magna Charta 1215 di Inggris yang kemudian menjadi akar demokrasi,
2)    Adanya Piagam Bill of Right 1689 di Inggris
3)    Revolusi Prancis yang menumbuhkan demokrasi dan nasionalisme yang tercermin dalam semboyan Revolusi “Liberte, Egalite, Fraternite” yang berkembang diseluruh Eropa,
4)    Pengaruh pemikiran dari Renaissance.
Akibat Nasionalisme:
1)    Gerakan nasionalisme di Amerika Serikat untuk melepaskan dari ikatan negara induknya (Inggris) karena hak-hak mereka dikurangi serta status warga negara yang jelas gerakan ini dipimpin oleh George Washington. Naskah kemerdekaan disusun oleh Thomas Yefferson ”Declaration of Independence” tahun 1776.
2)    Gerakan nasionalisme di Amerika Latin menenang penjajahan Spanyol dan Portugis yang dipimpin oleh Simon Bolivar.
3)    Gerakan nasionalisme Jerman dipimpin oleh Otto Van Bismark berhasil mengalahkan musuhnya (Den Mark, Austria, Prancis) hasilnya Jerman bersatu dinobatkan kaisar Wilhem I di istana Versailles.
4)    Gerakan nasional di Asia-Afrika yang melawan kekejaman bangsa Barat di Asia.


Munculnya Nasionalisme Asia-Afrika
Selain dari faham-faham diatas, faktor pendukung lain yang memicu kesadaran bersama di Asia-Afrika adalah sebagai berikut:
1.    kenangan kejayaan pada masa lampau menggugah kebangkitan melawan penjajah;
2.    pendeeritaan dan kesengsaraan rakyat akibat penjajahan;
3.    lahirnya golongan terpelajar yang memelopori gerakan anti penjajahan;
4.    pengaruh kemenangan Jepang atas Rusia 1901-1905, yang memberi kepastian bahwa bangsa Asia mampu mengalahkan bangsa Barat.
Ada tiga aspek gerakan nasional
1.    Aspek politik, yaitu gerakan nasional menumbangkan dominasi politik kaum imperialis dan menyuarakan keinginan rakyat serrta masyarakat yakni kemerdekaan.
2.    Aspek ekonomi, bahwa gerakan nasional terlihat adanya penghapusan ekploitasi ekonomi asing, yang bertujuan untuk membangun masyarakat baru yang bebas dari kesengsaraan dan kemelaratan, sesuai dengan cita keadilan sosial.
3.    Aspek kebudayaan, kaum nasionalis ingin menghapus penetrasi kebudayaan asing yang merugikan dan mematikan budaya bangsa dan menghidupkan kembali kebudayaanya dan kepribadiannya.

Perkembangan beberapa gerakan kebangsaan di Asia-Afrika
1.    Pergerakan kebangsaan India
2.    Pergerakan kebangsaan Mesir
3.    Pergerakan kebangsaan Jepang
4.    Pergerakan kebangsaan Cina
5.    Pergerakan kebangsaan Turki

Gerakan Kebangsaan India
India merupakan wilayah yang kaya barang tambang, batu mulia, intan, serta emas. Selain itu, sejak dulu India terkenal sebagai penghasil teh dan tekstil bermutu. Dengan adanya berbagai komoditi penting tersebut, banyak pedagang asing yang berdatangan. Vasco da Gamma merupakan orang Barat pertama yang mendarat di Calicut pada tahun 1498. kemudian, disusul oleh orang Inggris, Belanda, Perancis, dan pedagang lainnya.
Salah satu bangsa yang mempunyai minat besar terhadap India adalah Inggris. Setelah Portugal mempunyai baris perdagangan di Gowa dan memusatkan perdagangannya di sana, Inggris pun berusaha menetap di India. Peletak dasar Imperialisme Inggris di India adalah Robert Clive. Ia dibantu oleh Warren Hasting, Cornellius, dan Wellesley.
Dalam upaya meletakkan kekuasaan di India, Inggris mengambil langkah-langkah seperti mendirikan perkumpulan dagang yang disebut EIC (East India Company) pada tahun1600. EIC merupakan perkumpulan dagang yang memiliki hak Oktrooi. Usaha Inggris untuk menguasai India tidaklah mudah. Para penguasa setempat tidak begitu saja menyerahkan atau sukarela berhubungan dengan Inggris. Mereka secara terus-menerus berusaha melawan masuknya bangsa Inggris. Diantaranya adalah raja-raja Maratha dari Dekkan dan raja-raja Sikh dari Punjab.
Perlawanan juga dilakukan Kerajaan Sikh. Di bawah kekuasaan Raja Ranjit Singh, Kerajaan Sikh dapat memupuk kekuatan sehingga usaha Inggris untuk menguasainya selalu gagal. Namun, setelah Raja Ranjit Singh wafat, kerajaan mulai mundur dan akhirnya dapat dikuasai Inggris pada tahun 1849.
Perlawanan terhadap Inggris juga dilakukan oleh kalangan biasa dan tentara. Sebuah pemberontakan di kalangan militer yang disebut The India Mutiny pecah pada tahun 1857-1859. pemberontakan kaum militer tersebut di[icu o;eh ketidakpuasan anggota militer Inggris yang berasal darai India terhadap perlakuan pemerintah Inggris. Puncaknya terjadi ketika Panglima Inggris di India memerintahkan untuk menjilat ujung peluru yang hendak ditembakkan. Biasanya, ujung peluru tersebut dilumuri minyak pelumas. Menurut tentara India, minyak itu berasal dari lemak sapi atau lemak babi. Sapi dianggap binatang suci oleh pemeluk agama Hindu dan babi merupakan binatang haram bagi pemeluk agama Islam. Pemberontakan itu disebut juga Pemberontakan Sepoy (menurut bahasa Hindi, sipahi berarti tentara).
Pemmberontakan tersebut meletus di Meerut, dekat Delhi, pada 10 Mei 1857 dan dengan cepat menyebar ke selluruh pelosok India. Tentara India dengan serempak memanggul senjata menentang penjajah Inggris. Raja Bahadur Shah diangkat menjadi raja Hindustan (India) dan pemberontakan bergeser dari Delhi ke Jhansi di bekas kerajaan Maratha. Pemberontakan dipimpin oleh Rance Laksmi Bai. Pemimpin lainnya adalah Nana Shahib dan Tantia Topi.
Sayangnya, dalam pemberontakan ini terdapat beberapa raja India yang memihak dan membantu Inggris. Walaupun dengan susah payah, Inggris akhirnya dapat memadamkan pemberontakan ini pada tahun 1859.
Pemberontakan Sepoy dan perlawanan-perlawanan lainnya belum memberikan kemerdekaan. Sesudah pemberontakan dapat dipadamkan, Inggris masih bercokol disana dengan sistem pengendalian yang lebih terkontrol. Namun, pemberontakan ini menyadarkan bangsa India atas kemampuan dan keberadaan mereka. Sejak adanya pemberontakan ini, kaum nasionalis India menyadari realitas bangsanya seperti berikut ini.
1.    Rakyat India telah sangat menderita akibat p[enjajahan Inggris.
2.    para Pemuka India tetap tidak diperbolahkan untuk ikut memerintah di negerinya sendiri.
3.    Bertambahnya jumlah elite terpelajar India, yang telah mengenal kehidupan Eropa dan memahami aliran-aliran baru yang sedang berkembang di Eropa.
4.    Kemungkinan memiliki pemerintahan sendiri sebagaimana yang terjadi di Kanada yang diberi status dominion oleh Inggris.
5.    Adanya perbedaan kebudayaan Inggris dengan Kebudayaan India.
6.    Kemenangan Jepang atas Rusia pada 1905 yang menyadarkan mereka akan kekuatan bangsa kulit berwarna.
7.    kekuatan pasukan India berhasil dibuktikan dalam Perang Dunia I dan II.
Dengan realita seperti itu, gerakan nasionalisme India muncul ke permukaan untuk memperjuangkan kemerdekaan nasional bagi India. Gerakan nasionilme di India dipimpin oleh Mahatma Gandhi. Pendidikan tinggi yang dia dapatkan di London membuatnya mengenal konsep-konsep Barat tentang nasionalisme, demokrasi, liberalisme, dan kemerdekaan. Pemahamannya atas konsep-konsep tersebutlah yang membuatnya memimpin India dalam melawan penjajahan Inggris.
Perjuangan Gandhi didasari oleh 5 konsep utama, yaitu:
1.    Ahimsa: gerakan yang mengutamakan sikap anti-kekerasan.
2.    Satyagraha: gerakan yang mendidik rakyat India untuk tidak bekerja sama dalam segal;a bentuk urusan yang berhubungan dengan pemerintahan penjajah kolonial Inggris.
3.    Hartal: gerakan yang menekankan pada aksi pemogokan kerja oleh rakyat India.
4.    Swadesi: gerakan yang mengutamakan aksi pembmoikotan dan penolakan seluruh produk-produk buatan Inggris, khususnya tekstil.
5.    suaraji: membentuk pemerintahan sendiri.
Gerakan nasionalisme gandhi itu juga berlangsung beriringan dengan rencana beberapa tokoh India untuk bersatu padu merencanakan kemerdekaan India. Tokoh-tokoh tersebut antara lain Pandit Jawaharlal Nehru, Muhammad Ali Jinnah, Banerji, dan Tikal. Rencana itu direalisasikan dengan membentuk Kongres India pada tahun 1885. Kongres India dipelopori oleh seorang Inggris yang sangat mencintai India, Allan O’Hume. Meskipun pada akhirnya Muhammad Ali Jinnah keluar dari Kongres dan mendirikan Moslem League, langkah kongres India akhirnya membuahkan hasil. Kemerdekaan India diproklamirkan pada tanggal 15 Agustus 1947. Muhammad Ali Jinnah kemudian Hijrah ke Pakistan dan mempelopori gerakan nasionalisme di sana dan membentuk negara Pakistan.


Gerakan Kebangsaan di Mesir
Pada tahun 1798, tentara Prancis mendarat di Mesir. Tujuan pasukan Napoleon ini adalah menghancurkan kegiatan dagang dan kekuatan Inggris di Mesir. Di samping itu, Prancis juga berniat memasukkan ide-ide pembaharuan dari Revolusi Prancis agar dapat menyebar di Mesir. Pasukan Mamluk menyambut Prancis dengan pertempuran-pertempuran di sekkitar piramida. Akhirnya, Prancis dapat menguasai Kairo sampai tahun 1801.
Sejak penjajahan Prancis yang singkat ini, rakyat Mesir tidak lagi memperhatikan dinasti Mamluk yang berkuasa lama. Kesempatan ini dipakai oleh bangsa Mesir yang berbahasa Arab untuk tampil ke depan.
Sesudah pasukan Prancis kembali ke negerinya, di Mesir sering terjadi keributan. Akhrinya, muncullah Muhammad Ali yang mampu menguasai keadaan. Ia diangkat menjadi Pasha (gubernur) atas wilayah Mesir oleh Sultan Ottaman Turki pada tahun 1805. setelah itu, dia mulai melakukan pembangunan dan modernisasi di Mesir. Ia melakukan modernisasi pada angkatan perang Mesir dibantu oleh seorang Kolonel Prancis bernama Seves. Ia juga membangun Pelabuhan Alexandria secara modern. Muhammad Ali juga mengizinkan sebuah perusahaan Prancis untuk membangun terusan Suez. Penggalian ini dipimpin oleh ferdinand de Lesseps. Terusan Suez ini selesai pada tahun 1869.
Mesir mulai mengalami kemunduran setelah Muhammad Ali wafat. Mesir dililit utang akibat perang melawan Turki. Terusan Suez ”dijual” kepada Inggris dan Prancis. Sejak saat itu, secara perlahan Inggris mulai masuk dan akhirnya menjajah Mesir.
Gerakan nasionalis pertama di Mesir melawan kekuatan asing diawali dengan pemberontakan Arabi Pasha (1881-1882). Namun, usaha ini gagal. Selanjutnya gerakan nasionalis mendapatkan kekuatannya ketika dipimpin oleh Mustafa Kamil. Ia mendapat dukungan dari penguasa Mesir saat itu, yaitu Abbas II. Tujuan gerakan ini adalah mencapai kemerdekaan Mesir. Namun, usaha ini juga gagal. Menjelang Perang Dunia I, Abbas II diturunkan oleh Inggris dan digantikan oleh Husein Kamil.
Walaupun usaha Musthafa Kamil belum berhasil, gerakan kaum nasionalis terus berlangsung. Pada tahun 1918, terbentuklah partai Wafd (berarti utusan) di bawah pimpinan Saad Zaghul Pasha. Tuntutan mereka untuk menentukan masa depan Mesir ditolak oleh Inggris. Pada tahun 1922, Inggris mengeluarkan pernyataan unilateral untuk melindungi kepentingannya. Namu, kekuasaan Mesir ada di tanganh raja Fuad I yang mudah dipengaruhi Inggris. Perasaan tidak puas rakyat Mesir semakin kuat. Mereka ingin menjatuhkan kekuasaan Raja Fuad I.
Pada masa kepemimpinan Faruk I (putra Fuad I), Mesir terlibat perang melawan Israel. Namun, mengalami kegagalan. Rakyat menganggap raja harus bertanggung jawab atas kegagalan itu. Pada 13 Juli 1952, pasukan yang dipimpin MohammadNaguib melakukan kudeta. Inggris berhasil diusir, tetapi masih menguasai Terusan Suez. Kerajaan Mesir diubah menjadi republik. Mohammad Naguib ditetapkan menjadi presiden.


Gerakan Kebangsaan di Jepang
Nasionalisme Jepang ditandai dengan usaha restorasi atau modernisasi negara dengan mengadopsi nilai-nilai budaya dari Barat yang dikombinasikan dengan nilai-nilai budaya asli Jepang. Keberhasilan Jepang dalam mengadakan modernisasi serta mengusir imperialisme Barat mendorong negara-negara Asia untuk melakukan hal yang sama. Walaupun demikian, Jepang sendiri kemudian meniru negara-negara Barat menjadi negara imperialis yang menjajah negara-negara tetangganya. Revolusi Industri yang dialami Jepang pada awal abad ke-20 mendorong negara ini untuk melaksanakan imperialisme modern, menyusul negara-negara Barat.
Ketika Komodor Matthew Calbraith Perry kali pertama tiba pada 1852, Jepang masih merupakan sebuah masyarakat feodal yang kompleks. Pada puncak piramida pelapisan sosial berdiri seorang penguasa mirip kaisar. Selama 200 tahun, kekuasaan ppolitik sebenarnya berada di tangan seorang gubernur militer yang berkuasa secara turun-temurun yang disebuit shogun. Shogun dibantu oleh bangsawan perang yang disebut samurai. Ketika pemerintahan shogun mengadakan perjanjian dengan negara-negara Barat dan memberikan kemudahan kepada bangsa-bangsa Barat untuk berdagang di Jepang, banyak golongan samurai yang menentangnya. Mereka merasa terhina dengan masuknya bangsa-bangsa Barat di kota-kota pelabuhan Jepang.
Ketika para diplomat dan pedagang asing mulai bermukim di Yokohama sebagai akibat Perjanjian Shimoda (30 Maret 1854), golongan samurai radikal melancarkan gerakan anti-Barat dan anti-pemerintahan. Antara 1858-1861 terjadi pemberontakan dan pembunuhan terhadap bangsa asing dan pemerintahan shogun.
Menghadapi gerakan tersebut, bangsa Barat yang terdiri atas Amerika serikat, Inggris, Prancis, dan Belanda menggunakan cara kekerasan. Mereka menghancurkan pelabuhan-pelabuhan penting di Jepang. Tindakan ini berakibat semakin lemahnya kekuasaan pemerinntahan shogun.
Pada 1867, sebuah koalisi yang dipimpin oleh golongan samurai patriotik merebut kekuasaan dari pemerintahan shogun dan menempatkan kaisar sebagai penguasa. Pangeran Mutsuhito kemudian diangkat sebagai kaisar dengan gelar Meiji. Dengan demikian, pemerintahan dikembalikan pada kaisar dan pemerintahan shogun yang telah berkuasa selama dua ratus tahun diakhiri. Peristiwa tersebut merupakan awal dari Restorasi Meiji, yaitu restorasi untuk menyiapkan Jepang sebagai negara modern.
1)    Restorasi Meiji
Pada mulanya tujuan pemerintaha Meiji adalah menghadapi bangsa Barat dengan menggunakan kekuatan senjata. Namun, mereka berpikir realistis dan mulai menyadari bahwa peradaban Barat dalam aspek tertentu memiliki keunggulan dibandingkan dengan peradaban Jepang. Oleh karena itu, saat pemerintahan Kaisar Meiji, Jepang mulai memasuki zaman pembaruan.
Pada 1868, Kaisar Meiji mulai melakukan restorasi. Di bidang sosial politik, mereka menghapuskan sistem feodalisme dan membentuk pemerintahan desentralisasi sambil membentuk negara kesatuan yang kuat. Mereka juga meniru contoh Revolusi Prancis dengan menghapuskan sistem hukum berdasarkan pelapisan sosial dan menegakan persamaan hak (equality) di bidang sosial. Untuk belajar dari luar, para pemimpin Meiji juga membebaskan warganya untuk bepergian ke luar negeri, terutama ke negara-negara Barat.
Di bidang ekonomi, modernisasi ditandai dengan dibangunnya sejumlah sarana dan prasarana, seperti jaringan transportasi dan sejumlah pabrik modern. Modernisasi ini bersamaan dengan modernisasi di bidang kebudayaan dengan mengadopsi nilai-nilai liberal dari Barat di bidang ekonomi dan politik.
Di bidang militer, Jepang banyak belajar dari Prancis dan Jerman. Keberhasilan pembangunan angkatan bersenjata ini pada 1877 dimanfaatkan oleh pemerintah untuk meredakan pemberontakan yang berasal dari kalangan feodal yang kehilangan hak-hak istimewanya. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di Barat juga dipelajari bangsa Jepang. Demikian juga di bidang industri, farmasi dan pendidikan.
Untuk mengejar kemajuan Barat, warga Jepang didorong untuk belajar dari Barat. Sebaliknya, Jepang juga mengundang ahli-ahli Barat untuk bekerja di Jepang yang ditempatkan di sektor yang belum dikuasai orang Jepang. Lambat laun posisi mereka digantikan oleh orang Jepang yang terlatih.
Walaupun demikian, Jepang tidak sepenuhnya mengadopsi peradaban Barat dalam melakukan modernisasinya. Peradaban asli Jepang, yang terbentuk dalam proses sejarahnya, tetap dikembangkan selama tidak bertentangan dengan zaman baru. Nilai-nilai kerja keras, hemat, rela berkorban yang dipengaruhi oleh semangat bushido, tetap dipertahankan dan dikembangkan oleh bangsa Jepang.
Di bidang pemerintahan, Jepang juga tidak sepenuhnya meniru Barat. Dalam pemerintahan baru, kedudukan kaisar dan para menterinya diperkuat, sebaliknya kedudukan anggota dewan perwakilan dibatasi.
2)    Imperialisme Jepang
Tampilnya Jepang sebagai negara imperialis di Asia merupakan salah satu akibat dari kemajuan yang diperolehnya di bidang industri dan militer sejak restorai Meiji. Jepang meniru bangsa Barat sebagai negara imperialis untuk menguasai wilayah negara tetangganya dengan tujuan yang relatif sama, yaitu memenuhi kepentingan industrialisasi di dalam negeri.
Ekspansi Jepang ke negara-negara tetangganya bukan hanya membuktikan bahwa Jepang memang kuat, melainkan juga memperkuat semangat nasionalismenya.
Keberhailan Jepang dalam merestorasi negaranya dengan meniru model barat dan kemenangannya dalam perang melawan Rusia pada 1905 memberi inspirasi bagi bangsa-bangsa Asia dalam menumbuhkan semangat nasionalismenya. Bangsa-bangsa Asia yang sedang berada di bawah imperialisme Barat seperti disadarkan oleh bangsa Jepang bahwa bangsa Barat Bukan hanya bisa dikalahkan, melainkan juga bisa dimanfaatkan dengan cara mempelajari paham-paham baru yang dibawanya serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah diperolehnya. Golongan Nasionalis Asia melihat pengalaman Jepang sebagai contoh yang bisa ditiru, walaupun pada akhirnya negara-negara Asia jatuh ke tangan imperialis Jepang.


Gerakan Kebangsaan di Cina
Gerakan nasionalisme di Cina dilatarbelakangi oleh reaksi terhadap Dinasti Manchu yang dianggap sebagai dinasti asing. Dinasti ini dianggap lemah dalam menghadapi intervensi bangsa Barat. Pada abad ke- 19, Cina dimasuki bangsa Inggris, Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat melalui perjanjian-perjanjian yang dipaksakan serta intervensi Jepang pada 1895. dua perjanjian yang membuat Cina terbuka terhadap intervensi bangsa Barat adalah Perjanjian Nanking pada 1842 dan Perjanjian Peking 1860.
Perjanjian Nanking merupakan konsekuensi dari kalahnya Cina dalam Perang Candu (1839-1842) melawan Inggris. Perjanjian ini, antara lain berisi keharusan Cina membuka lima pelabuhannya untuk bangsa asing dan memberikan daerah Hongkong serta hak ekstrateritorial kepada Inggris. Adapun Perjanjian Peking adalah perjanjian yang ditandatangani setelah berakhirnya perang antara Cina dan Inggris-Prancis pada 1856-1860. perjanjian ini antara lain berisi keharusan Cina untuk membuka sebelas pelabuhan bagi bangsa asing, jawatan bea cukai Cina dipegang oleh badan Internasional, seluruh Cina terbuka bagi bangsa asing, dan penempatan duta besar Inggris di Peking. Dengan kedua perjanjian tersebut, kedaulatan Cina menjadi menurun dan keselamatan Cina terancam.
Gerakan nasionalisme Cina kali pertama muncul melalui Pemberontakan Tai Ping (1850-1860) dipimpin Hung Siu Tsywan, merupakan pemberontakan sosial yang asli dari bangsa Cina dan tidak mendapat pengaruh barat.
Upaya untuk menumbangkan Dinasti Manchu dan mengusir bangsa-bangsa Barat terus berlanjut. Gerakan ini terjadi di Cina Utara dan menamakan gerakannya Tinju keadilan karena para anggotanya ahli dalam bermain silat. Gerakan yang dikenal sebagai Pemberontakan Boxer (1900-1901) ini menyebabkan terbunuhnya dua ratusan missionaris Barat serta ribuan orang Cina penganut Kristen. Akibat peristiwa ini, Kota Peking diduduki oleh pasukan Barat dan Cina harus membayar ganti rugi dalam jumlah besar.
1)    Nasionalisme dan Pembaruan di Cina
Untuk menumbuhkan semangat nasionalisme serta pembaruan, tokoh nasionalis Cina yang bernama Dr. Sun Yat Sen (1866-1925) pada Oktober 1911 mendirikan partai politik yang bernama Kuo Min Tang (Parta Nasional Cina). Ia kemudian mengumumkan berdirinya Republik Cina pada 10 Oktober 1911 di Cina Selatan dengan Nanking sebagai ibu kotanya. Peristiwa ini dikenal sebagai The Double Ten Day atau Wuchang Day.
Untuk mengakhiri kekuasaan Dinasti Manchu, Dr. Sun Yat Sen bekerja sama dengan Jenderal yuan Shis Kai, pendukung kaisar Manchu. Kekuasaaan Dinasti Manchu akhirnya berhasil diakhiri tanpa pertumpahan darah pada 12 Februari 1912. selanjutnya, Jenderal Yuan Shih Kai menjadi Presiden Pertama Republik Cina. Dia juga bertindak sebagai seorang dictator dengan menggunakan cara kekerasan. Pada 1914, dia membubarkan parlemen hasil pemilu dengan mengerahkan pasukannya.
Pada 1916, Jendral Yuan Shih Kai meninggal dan Dr. Sun Yat Sen kembali memegang pimpinan di Cina Selatan, sedangkan pemerintahan pusat di Peking, Cina Utara, mengalami perpecahan. Selama satu dekade kekuasaan politik dipegang para pemimpin militer lokal yang disebut warlord, yaitu seorang yang kuat secara militer dan mampu membangun pasukan dalam waktu singkat dengan memanfaatkan para petani, serta mampu mendapat legitimasi dari peking. Meskipun begitu, tidak seorangpun dari warlord itu mampu membangun dinasti baru atau negara republik modern. Sistem pemerintahan warlord ini sangat ditentang oleh Kaum Nasionalis Cina.
Pada 1924, Partai Nasionalis Cina di bawah Pimpinan Jenderal Chiang Kai Shek (pengganti Dr. Sun Yat Sen yang meninggal pada 1924) mengadakan aliansi politik dengan Partai Komunis Cina (Kung Chang Tang) di bawah pimpinan Chu Teh. Aliansi ini bertujuan untuk menghadapi warlord di Utara.
Setelah wilayah utara berhasil diduduki pada 1927, Republik Cina pun terbentuk dengan daerahnya yang mencakup wilayah utara dan selatan. Chiang Kai Shek kemudian mendirikan ibukota baru di Nanking pada 1928.
Terbentuknya satu kesatuan Cina itu tidak bisa dipertahankan lebih lama. Benih-benih perpecahan di antara unsur-unsur nasionalisme mulai tampak. Aliansi antara Partai Nasionalis dan Komunis Cina berubah menjadi permusuhan.
2)    Agresi Jepang dan Kemenangan Kaum Komunis
Persaingan antara golongan nasionalis Jenderal Chiang Kai Shek dan nasionalis komunis di bawah pimpinan Mao Zedong memuncak sejak 1930. antara 1930-1934, pemerintahan nasionalis pimpinan Jenderal Chiang Kai Shek melancarkan kampanye anti komunis. Namun, hal tersebut tidak disertai perbaikan ekonomi [etani yang tetap menderita di bawah tekanan para tuan tanah.
Untuk membatasi ruang gerak kaum komunis, Chiang Kai Shek mengadakan pengepungan dan pembasmian penguasa komunis di pedesaan Cina Selatan. Usaha ini gagal karena kaum komunis mampu memecah pengepungan pasukan nasionalis dengan cara mengadakan serangan balasan.
Untuk menghindari pengepungan, pada 1934 kaum komunis mengadakan long march ssepanjang 9700 KM dari Kiang Shi ke Yuan, Cina Utara selama 12 bulan. Di daerah baru tersebut Mao membangun kekuatannya. Setelah Jepang mengadakan agresi ke Manchuria pada 1937, kedudukan kaum komunis semakin kuat. Pemerintahan nasionalis Chiang Kai Shek tidak mampu berbuat banyak untuk mengusir Jepang. Pada 1938, Chiang memindahkan ibu kota ke Chungking di pedalaman Cina. Hal tersebut menyebabkan kedudukan pemerintahannya semakin kehilangan dukungan.
Sebaliknya, dalam situasi perang, kaum komunis membangun kekuatannya dan melancarkan perang gerilya di garis perbatasan yang diduduki Jepang. Sebagai pimpinan komunis, Mao menghindari perang secara langsung dengan Jepang.
Dengan cara mengadakan landreform dan memikat golongan intelektual serta menyebarkan propaganda, Mao dan kaum komunis muncul sebagai patriot sejati dan nasionalis murni di mata mayoritas rakyat Cina.
Setelah Jepang kalah di dalam perang Dunia II, kaum nasionalis Chiang dan komunis Mao berebut menduduki daerah yang ditinggalkan Jepang. Dalam persaingan itu, kaum komunis memperoleh kemenangan. Sebaliknya, kaum nasionalis, yang dalam perang Dunia II di Bantu Amerika Serikat kehilangan dukungan rakyat.
Pada 1949, kaum nasionalis pimpinan Jenderal Chiang Kai Shek dan sejuta pendukungnya meninggalkan Cina Daratan menuju pulau Taiwan. Di pulau itu mereka meneruskan pemerintahan nasionalis menurut garis politik Kuo Min Tang. Sementara itu, pada tahun yang sama, Mao Zedong memproklamasikan berdirinya Republik Rakyat Cina menggantikan pemerintahan nasionalis Jenderal Chiang Kai Shek di Cina Daratan.

Gerakan Kebangsaan di Turki
Nasionalisme dan revolusi bangsa Turki terjadi Setelah berakhirnya perang Dunia I. Pada saat itu, Turki berada pada puhak yang kalah perang dan harus tunduk pada keputusan-keputusan sekutu yang memenangkan perang. Akibatnya, Turki sebagai Imperium besar yang pernah menguasai Jazirah Balkan, Afrika Utara dan Jazirah Arab, harus menyerahkan wilayahnya kepada Sekutu.
Bagi Turki, keputusan tersesbut merupakan bentuk pemaksaan Sekutu yang bertindak sebagai imperialis Barat. Inggris, Prancis, Italia, dan Yunani memperoleh daerah bekas kekuasaan Imperium Usmania Turki di Afrika dan Jazirah Arab. Adapun Yunani, di Balkan, memperoleh kemerdekaannya dari Turki. Hal ini mengakibatkan Turki dijuluki sebagai The Sick Man From Europe atau orang sakit dari Eropa.
Nasionalisme Turki semakin tumbuh Setelah Negara-negara Sekutu berusaha melemahkan Turki dengan cara membantu Gerakan nasionalis Yunani yang berusaha merebut wilayah Turki di bagian barat (Jazirah Balkan) pada 1919. Dalam perang melawan agresi barat itu tampil seorang pemimpin, yaitu Musthapha Kemal Pasha. Ia adalah seorang tokoh militer yang bersimpati terhadap Gerakan Turki Muda, sebuah Gerakan yang dianggap sebagai realisasi pertama dari nasionalisme Turki. Gerakan itu terbentuk atas dasar semangat kebangsaan Turki yang berusaha mengusir kekuasaan barat serta menentang rezim lama Turki USmani yang mulai rapuh.
Pasukan nasionalis Turki yang dipimpin Musthapha Kemal Pasha memperoleh kemenangan besar dan berhasil mengusir Sekutu dari daratan Turki. Selain itu, Turki berhasil memaksa Sekutu untuk duduk dalam meja perundingan dan menandatangani Perjanjian Laussane pada 1923. dalam perjanjian tersebut kedaulatan Turki tetap terpelihara dan hanya kehilangan daerah penduduknya di jazirah Arab. Kemenangan perang dan diplomatic ini membuat kepercayaan diri bangsa Turki bangkit kembali.
Sebagai seorang nasionalis yang tidak menggunakan dasar agama dalam perjuangannya, Musthapha Kemal Pasha berpandangan bahwa Turki harus dimodernisasi menurut model barat.untuk memodernisasi itu, maka diperlukan adanya Gerakan sekuler yang memisahkan antara kehidupan agama dan Negara.
Dia kemudian berusaha mempengaruhi Majelis nasional (semacam Parlemen) untuk memberhentikan Sultan serta mendirikan Negara Republik Turki. Dia sendiri berhasil menjadi presiden republic baru itu pada 29 Oktober 1923 dan memindahkan ibukota Negara dari Istambul yang berada di wilayah benua Eropa ke Ankara di daratan Turki yang termasuk wilayah Benua Asia.
Gerakan modernisasi yang paling radikal yang dilakukan Musthapa Kemal Pasha adalah dibidang budaya dan agama. Tradisi intelektual islam yang diatur oleh penguasa Islam yang telah berlangsung selama berabad-abad diubah oleh Musthapha Kemal Pasha. Dia membatasi tempat ibadah hanya sebagai pusat kegiatan agama. Aktifitas para pemimpin agamapun dibatasi. Kegiatan agama dipisahkan dari kehidupan Negara. Pengadilan agama dilarang dan diganti dengan sistem pengadilan model Barat. Sekolah-sekolah agama diubah menjadi sekolah umum dengan kurikulum model Barat yang menekankan pada Pelajaran Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Ilmu Pengetahuan Sosial.
Pembaruan dibidang kebudayaan ditandai dengan digunakannya atribut-atribut baru yang berasal dari Barat. Adapun tradisi lama menurut warisan kesultanan Turki Usmani harus di tanggalkan. Pria Turki dilarang memakai peci ala Turki dan diharuskan memakai topi ala Eropa. Dalam bekerja di kantor, pegawai Negeri harus memakai jas atau pakaian model barat.
Pembaruan juga terjadi dalam literature. Tulisan Arab yang selama berabad-abad telah digunakan dalam literature-literatur kehidupan bangsa, diganti dengan tulisan latin. Hal ini bertujuan untuk memudahkan bangsa Turki dalam mengadopsi peradaban dari Barat serta meningkatkan melek huruf.
Setelah Musthapha Kemal Pasha meninggal pada 1938, timbul perlawanan dari kaum intelektual Islam.mereka menentang modernisasi barat dan Industrialisasi yang tidak menumbuhkan kemakmuran rakyat Turki. Setelah berakhirnya perang Dunia II, para pemimpin Turki berusaha memodifikasi model pembaruan Musthapha Kemal Pasha dengan cara menggali nilai-nilai lama Islam sambil tetap menentang imperialisme Barat. 
versi Word. unduh.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "MAKALAH SEJARAH TENTANG MODUL PAHAM-PAHAM BARU DAN KESADARAN KEBANGSAAN INDONESIA"

Post a Comment

Silakan berkomentar di anakciremai.com, Maaf Jika komentar anda berbau spam akan saya hapus.