MAKALAH AGAMA ISLAM TENTANG PENDIDIKAN AGAMA DI LINGKUNGAN KELUARGA 2

Anakciremai
By -
0
PENDIDIKAN DI LINGKUNGAN KELUARGA

A. Pendahuluan
Surat Luqman yang jumlahnya 34 ayat termasuk golongan surat makiyyah, diturunkan setelah surat Ash Shaffaat disebut surat “Luqman” dikarenakan dalam ayat ke 12 disebutkan bahwa Luqman sudah diberi oleh nikmat dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu beliau syukur kepada Allah terhadap apa yang telah dianugerahkannya. Selanjutnya pada ayat ke 13 sampai ayat 19 ada nasihat Luqman pada anaknya hal ini merupakan isyarat dari Allah agar setiap orang tua, ibu bapak melaksanakan nasihat kepada anak-anaknya seperti yang dilakukan oleh Luqman dan hal ini merupakan pelaksanaan pendidikan dalam lingkungan keluarga karena pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan yang utama.

B. Pokok-Pokok Isi Surat Al-Qur'an
1. Tentang Keimanan
Al-Qur'an merupakan petunjuk dan rahmat yang betul-betul bisa dirasakan oleh orang yang muk’min. Keajaiban yang termasuk di dalamnya suatu bukti yang menunjukan kemahatunggalan dan kemahakuasaan Allah, manusia tidak akan selamat kecuali taat pada perintah-perintah-Nya dan mengerjakan amal shaleh, perkara-perkara yang gaib hanya Allah yang Maha Tahu, ilmu Allah meliputi segala macam baik yang dhohir ataupun yang batin.

2. Tentang Hukum-Hukum
Kewajiban dan berbakti kepada kedua orang tua sepanjang tidak bertentangan dengan perintah-perintah Allah, perintah untuk meneliti dan memikirkan keajaiban alam untuk memperkuat keimanan terhadap kemahatunggalan Allah, perintah untuk selamanya taqwa dan harus takut akan balasan dari Allah ada satu orang nanti di hari kiamat pada waktu dimana tidak ada satu orang pun yang dapat menolong walaupun anak dan bapak.

3. Tentang Kisah-Kisah
Kisah Luqman, ilmu dan hikmah yang dimilikinya.
4. Tentang yang lainnya
Orang-orang yang tersesat dari jalan Allah selamanya mencela dan mengejek pada ayat-ayat Allah. Menyepelekan ajakan dalam meneliti alam semesta dan tidak mau menyembah terhadap yang menciptakannya, penghibur hati. Rasulullah dalam menghadapi kemungkaran kaum musyrik sebab hal itu bukan keteledorannya. Nikmat serta karunia Allah tidak terhitung.

C. Tafsiran ayat ke 12 sampai dengan ayat ke 19

وَلَقَدْ اتَيْنَالُقْمنَ الحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرِْللهِ وَمَنْ يَشْكُرْفَاِنَّمَايَشْكُرُلِنَفْسِه وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ.(12). وَاِذْ قَالَ لُقْمنُ لاِبْنِه وَهُوَ يَعِظُه يبُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ.(13). وَوَصَّيْنَااْلاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ اُمُّه وَهْنًاعَلى وَهْنٍ وَّفِصلُه فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَ اِلَيَّ اْلمَصِيْرُ.(14). وَاِنْ جَاهَدكَ عَلى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَالَيْسَ لَكَ بِه عِلمً فَلاَتُطِعْهُمَاوَصَاحِبْهُمَافِىالدُّنْيَا مَعْرُوْفًا وَّتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِئُكُمْ بِمَاكُنْتُمْ تَعْمَلُوْن.(15). يبُنَيَّ اِنَّهَااِنْ تَكُ مِثْفَالَ حَبَةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِىالسَّموتِ اَوْفِى الاَرْضِ يَأْتِ بِهَااللهُ, اِنَّ اللهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ.(16). يبُنَيَّ اَقِمِ الصَلوةَ وَأْمُرُ بِاْلمَعْرُفِ وَانْهَ عَنِ اْلمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلى مَآاََصَبَكَ, اِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِاْلاُمُرٍ.(17). وَلاَتُصَعِرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَتَمْشِ فِى اْلاَرْضِ مَرَحًا اِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ.(18). وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ اِنَّ اَنْكَرَ اْلاَصْوَاتِ لَصَوْتُ اْلحَمِيْرِ.(19).
Artinya:
“Dan sesungguhnya telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur; maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (12). Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya. Di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (13). Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (14) Dan jika keduanya untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu. Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (15). Luqman (berkata): “Hai anakku sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (16). Hai Anakku dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (17). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (18). Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai. (19).

1. Ayat ke-12 tafsirnya
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT menganugerahkan nikmat kepada Luqman yaitu halus perasaannya, sehat akal pikirannya. Tinggi ilmu pengetahuannya bisa mencapai ilmu yang hakiki menempuh jalan yang lurus dan benar, sehingga tercapai kebahagiaan yang abadi oleh karena itu dia bersyukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat kepadanya, itu menunjukan bahwa pengetahuan dan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Luqman itu bukan dari wahyu yang diturunkan oleh Allah kepadanya, tetapi berdasarkan kepada ilmu dan hikmah yang telah dianugerahkan kepada Allah kepadanya.
Banyak riwayat yang menerangkan asal muasal Luqman satu sama lain berbeda pendapatnya antara lain:
Said Bin Musyawab mengatakan bahwa Luqman asalnya dari Sudan kalau sekarang Mesir bagian selatan,
Zamar Khasyari dan Ibnu Isha mengatakan bahwa Luqman termasuk keturunan Bani Israil dan termasuk salah satu cucunya Azar ayahnya Ibrahim as. Menurut riwayat ini Luqman adanya sebelum adanya Nabi Daud as.
Menurut Al-Waqidi, di (Luqman salah seorang qodhi di antara qodhi-qodhi Bani Israil ada yang menerangkan bahwa Luqman itu salah seorang dari Nabi, dalam riwayat lain bahwa Luqman hanya seorang wali bukan Nabi (Tafsir Al-Quthubi, jilid ke-14 hal 59).
Satu bukti yang jelas bahwa Luqman adalah seorang hamba Allah yang selamanya taat terhadap-Nya dan sangat mengagungkan akan kekuasaan Allah, tegasnya amat syukur kepada nikmat Allah dan dia telah diberikan
Hikmah dari Allah.
Menurut riwayat Ibnu Umar pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda Luqman itu bukan seorang Nabi tapi dia adalah salah seorang yang abdi Allah yang banyak bertafakur dia mencintai Allah dan Allah pun mencintainya. Banyak riwayat yang menyebutkan kata-kata hikmah yang asalnya dari Luqman.
Akhir ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa orang yang bersyukur kepada Allah SWT mengandung arti dia bersyukur kepada Allah mengandung arti dia bersyukur untuk kepentingan dirinya sendiri. Allah SWT akan menganugerahkan pahala yang tidak terhitung karena Allah SWT berfirman:
وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّى غَنِّيٌ كَرِيْمٌ
Artinya:
Dan siapa orang yang bersyukur kepada Dia bersyukur untuk kebaikannya sendiri dan siapa yang mengkufurkan sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Mulia (Q.S An-Nahl: 40)

Dan firman-Nya pula
وَ مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَِلأَنْفُسِهِمْ يَمْهَدُوْنَ
Artinya:
Dan barang siapa yang beramal shalih keuntungannya untuk dirinya sendiri, mereka mempersiapkan tempat yang memuaskan. (Q.S 30 Arrum ayat 44).

Firman Allah
لأن شكر تم لأزيد نكم ولأن كفر تم إن عذاب لشديد
Artinya:
Jika kami bersyukur atas nikmat pemberian dariku maka aku akan menambah nikmat kepadamu akan tetapi jika kami ingkar terhadap nikmat pemberianku sesungguhnya siksaku amat pedih.

2. Ayat ke-13 tafsirnya
Allah SWT memberi tuntutan kepada Rasulullah saw, nasihat yang diberikan Luqman pada anaknya pada waktu dia memberikan didikan kepada anaknya, nasihatnya yaitu. “hai anakku janganlah kamu menyamakan Allah dengan benda apa saja sesungguhnya perbuatan itu adalah (kedhaliman) sesungguhnya pekerjaan itu sama dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya, menyamakan suatu benda dengan suatu benda dengan yang memberi nikmat dan karunia. Allah SWT, sumber pemberi nikmat dan karunia disamakan dengan patung-patung yang tidak berdaya dan tidak punya kekuatan, disebutkan bahwa pekerjaan itu “penganiayaan yang paling besar” karena yang disamakannya Allah yang menciptakan alam semesta berkuasa di seluruh alam yang seharusnya semua makhluk mengabdi dan menyembah kepada-Nya.
أَلَّذِيْنَ أَمَنُوْ لَمْ يَلْبِسُوْااِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُوْلئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُوَ تَهْتَدُوْنَ
Artinya:
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukan imannya dengan kedhaliman (kemusyirkan) mereka yang berhak mendapat keamanan dan mereka yang mendapat petunjuk. (Q.S Al-Anam ayat 82).

Timbulah kegembiraan di antara pada sahabat Rasulullah saw dikarenakan mereka mempunyai pendirian berat sekali andai kata mencampur adukan antara keimanan dan kedhaliman selanjutnya mereka berkata kepada Rasulullah saw. “siapa di antara kamu yang tidak mencampur adukan keimanan dan kedhaliman? Rasulullah bersabda bukan begitu maksudnya apakah kamu sekalian tidak mendengar perkataan Luqman “hai anakku janganlah kamu menyamakan sesuatu kepada Allah sesungguhnya hal itu adalah penganiayaan yang sangat besar” dalam ayat ini bisa dimaklum di antara kewajiban ayah terhadap anak-anaknya memberi nasihat dan pelajaran sehingga anak-anaknya itu bisa menempuh jalan yang benar dan jauh dari kesesatan, hal ini sesuai dengan firman Allah:
يَايها الذين امنو اقواأنفسكم وأهليكم نارا وقودهاالناس والحجارة
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu-batu (Q.S. At-Tahrim, ayat 6).

Kalau kita teliti rincian kalimat ayat ini bisa diambil kesimpulan bahwa Luqman sangat mencegah kepada anaknya untuk berbuat syirik cegahan ini sangat sesuai dengan apa yang disampaikan Luqman kepada anaknya dikarenakan melakukan syirik itu satu pekerjaan dosa yang sangat besar dalam isi ayat ini Luqman sudah melaksanakan pekerjaan yang amat penting kepada anaknya yaitu sudah menyampaikan agama yang benar dan budi pekerti yang baik dan tinggi contoh Luqman menyampaikan wasiat itu wajib diteladani oleh ibu dan bapak yang mengakui dirinya muslim.

3. Ayat ke-14 tafsirnya
Allah SWT memberitahukan kepada manusia agar berbakti kepada ibu bapak dengan menteladani nasihat Luqman dan melaksanakan hak dan kewajibannya.
Dalam ayat yang lainnya Allah berfirman:
وَقَضى رَبُّكَ ألاَّتَعْبُدَوا إِلاَّإِيَاهُ وَبِاالوَالِدَيْنِ إِحْسنًا
Artinya:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya (QS. Al Israa, ayat 23).

Selanjutnya disebutkan dalam ayat ini sebab-sebab di perintahkan berbakti kepada ibu bapak yaitu; Ibu yang mengandung sejak kandungan kecil sampai lahir hal ini berat bagi ibu dia rela berkorban berbulan-bulan menahan sakit dengan sabar menahan perasaan lemas ketika kandungan besar baru pulih beberapa hari setelah nipas, selanjutnya ibu menyusui selama dua tahun banyak sekali kesulitan dan kesedihan yang dialami oleh ibu ketika menyusui anak itu hanya Allah yang mengetahui kesulitan dan kesedihan ibunya.
Di dalam ayat tidak disebutkan mengapa seorang anak harus berbakti kepada ibunya dari pada kepada bapaknya hal ini dikarenakan seorang ibu lebih berat penderitaannya dari pada bapak, ibu mengalami penderitaan bukan saja saat mengandung setelah lahirpun harus membagi makanan ketika dua tahun menyusui waktu mengandung membagi saripati makanan yang dimakan seorang ibu di dalam susu. Dengan susah lahirpun harus membagi melalui ASI. Tentang saripati makanan yang dimakan ibunya berupa ASI mengandung macam penawar pencegah macam-macam penyakit anak sekalipun ada air susu yang lain tapi tetap air susu ibu yang paling baik untuk anaknya, oleh karena itu sebaiknya para ibu menyusui anaknya jangan diganti oleh susu lain SGM atau sejenisnya kecuali terpaksa ada udur sebab ASI adalah hak anak dan menyusui adalah kewajiban ibunya yang sudah dipercayakan Allah kepada ibunya dengan sebab-sebab itu Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk taat dan berbakti kepada ibunya, nabipun memerintahkan agar anak berbakti kepada ibunya lebih dari pada bapaknya seperti dijelaskan dalam suatu hadits:
عَنْ يَهْزِبْنِ حَكِيْمٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّيْهِ: قُلْتُ يَارَسُوْلُ الله مَنْ اَبَرَّ قَالَ: أَمُّكَ قُلْتَ ثَمَّ مّنْ قَالَ اُمُّكَ قَلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ اُمُّكَ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قُالُ أَبَاكَ ثُمَّ اَقْرَبُ فَاْلاَقْوَبُ
Artinya:
Dari Bahaz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya dia berkata saya bertanya kepada Rasulullah kepada siapa saja saya harus berbakti jawab Rasulullah kepada ibumu, saya bertanya lagi selanjutnya kepada siapa lagi? Jawab Rasulullah kepada ibumu, saya bertanya lagi pada siapa lagi? Jawab Rasulullah pada ibumu. Kemudian saya bertanya lagi pada siapa lagi? Jawab Rasulullah kepada bapakmu terus kepada kerabat-kerabatmu yang lebih dekat.

Kesimpulannya bahwa Allah SWT menurunkan kepada manusia untuk berbakti kepada ibu bapak setelah melaksanakan ibadah kepada Allah SWT terakhir ayat ini memperingatkan kepada manusia bahwa semuanya akan kembali kepada-Nya suatu waktu Allah akan memberi balasan yang adil kepada hamba-hambanya, pekerjaan yang baik amal yang baik akan dibalas dengan balasan yang berlipat ganda yaitu surga yang penuh dengan nikmat pekerjaan jelek akan dibalas dengan siksaan yang berupa neraka yang sangat panas apinya membara.

4. Ayat ke-15 tafsirnya
Ayat ini menjelaskan tentang satu peristiwa bahwa seorang tidak boleh taat kepada kedua orang tuanya andaikata orang tuanya menyuruh untuk menyekutukan Tuhan (musyrik) yang dia tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, Allah tidak mempunyai sekutu baginya. Di samping itu manusia menurut fitrahnya cenderung untuk meng-esakan Allah.
Dalam riwayat ayat ini turun bertalian dengan keadaan Saad bin Abi Wakos, dia berkata ketika saya masuk Islam ibu saya bersumpah tidak akan makan dan minum sebelum saya meninggalkan Islam dengan kejadian itu hari berikutnya saya berharap ibu saya mau makan dan minum tapi ibu saya tetap dalam pendiriannya hari kedua ibu saya masih mempunyai pendirian seperti itu. Dengan adanya demikian saya berkata kepada ibu saya demi Allah andaikata ibu punya seratus jiwa pastinya jiwa itu akan keluar satu persatu sebelum saya meninggalkan agama yang dipegang oleh saya setelah tahu ibu saya akan pendirian saya baru ibu saya mau makan dan minum.
Dengan turunnya ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa Saad abi Waqqos tidak termasuk dosa dikarenakan tidak taat kepada ibunya yang memegang kemusyrikan, ketentuan ini berlaku bagi umat Nabi Muhammad SAW bahwa tidak boleh taat kepada kedua orang tua andaikata menuruti kemusyrikan dan dosa-dosa yang lainnya.
Selanjutnya Allah SWT memerintahkan terhadap anak agar tetap berbakti terhadap kedua orang tuanya dalam urusan yang lainnya.
Lalu ayat yang lainnya seorang anak harus berkata dengan kata-kata yang sebaik-baiknya terhadap kedua orang tuanya tidak boleh menyinggung perasaannya, walaupun hanya dengan ucapan “ah” untuk menentang keinginan kedua orangtuanya.
Firman Allah
قَلاَ تَقُلْ لَّهُمَا أُفٍ
Artinya
Janganlah mengucapkan ah kepada mereka. (Q.S. Al-Isro ayat 23)

5. Ayat ke-16 tafsirnya
Luqman berwasiat kepada anaknya agar selamanya waspada terhadap reka perdaya syetan yang suka mempengaruhi manusia untuk berbuat dosa, sesungguhnya apa-apa yang dikerjakan manusia dari mulai yang paling kecil sampai pada pekerjaan yang paling besar baik yang dhahir ataupun yang tersembunyi, baik di langit ataupun di bumi pasti Allah akan mengetahui terhadap itu, dengan demikian Allah akan membalas apa-apa yang dikerjakan, pekerjaan yang baik akan dibalas dengan surga amal yang jelek akan dibalas dengan api neraka yang membara semuanya tidak akan luput dari pengetahuan dan penglihatan Allah semuanya balasan sesuai dengan apa yang dilakukan oleh manusia, sesuai dengan firman-Nya:
وَنَضَعُ اْلمَوَازِيْنَ القِسْطَ لِيَوْمِ اْلقِيمَةِ فَلاَ تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا
Artinya:
Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikitpun (Q.S Al Anbiya ayat 47)

6. Ayat ke-17 tafsirnya
Dalam ayat ini Luqman berwasiat pada anaknya
1. Selamanya harus mendirikan sholat dengan sebaik-baiknya sehingga sholatnya mendapat ridho dari Allah SWT seandainya sholatnya mendapat ridho Allah maka sholat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Kalau sholatnya dilakukan sebaik-baiknya maka jiwanya akan jadi bersih, tidak ada kekhawatiran pada dirinya tidak akan sedih andaikata mendapat cobaan karena dirinya lebih dekat akan Tuhannya, Nabi bersabda:
أعبدو الله كأنك تراه فَأن لم تكن تراه فأنه يوك
Artinya
Beribadahlah kepada Allah seolah-olah kamu melihat dia maka jika kamu tidak dapat melihat dia sesungguhnya bahwa dia melihat kamu (H.R Buchori dan muslim)

2. Berupaya mengajak manusia
Untuk melaksanakan pekerjaan yang baik yang mendapat ridho Allah SWT dan berusaha agar manusia telah berbuat dosa, berusaha membersihkan jiwanya untuk mendapat derajat yang tinggi.
Firman Allah
قَدْأَفْلَحَ مَنْ زَكَهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَشَهَا
Artinya:
Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensucikan jiwanya sesungguhnya rugi yang mengotori jiwanya (Q.S Asy Syaiah 9-10)



3. Selamanya sabar dari segala cobaan
Yang menimpa dirinya dengan mengajak manusia melaksanakan pekerjaan yang baik dan menjauhi kemunkaran
Terakhir ayat ini menjelaskan sebab-sebab dia memerintahkan melaksanakan tiga perkara tadi, yaitu pekerjaan yang diwajibkan Allah SWT terhadap hamba-hambanya besar sekali manfaatnya bagi yang melaksankannya baik dunia ataupun akhirat.

7. Ayat ke-18 dan 19 tafsirnya
Ayat ini menjelaskan wasiat Luqman terhadap anaknya agar anaknya memiliki budi pekerti yang baik diantaranya:
1. Janganlah kamu mempunyai sifat sombong membanggakan diri menganggap rendah terhadap orang lain
Ciri-ciri orang yang sombong yaitu:
a. Jika ia bertemu dengan orang lain suka memalingkan muka atau tidak menunjukan keramahtamahan
b. Jika ia berjalan seolah-olah jalan itu punya sendiri dengan congkaknya ia berjalan.
Dalam hadits Rasulullah bersabda:
لاِتَبَاغَضُوْا وَلاَتَدَابَرُواوَلاَتَحَسَادُوْاوَكُوْنُوْاعِبَاداللهِ اِخْوَانًا وَلاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ اَنْ يَهْجُوْرُ اَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ
Artinya:
Janganlah kamu saling bermusuhan, janganlah saling mengabaikan dan jangan saling mendengki jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara tidak boleh seorang muslim tidak saling menyapa lebih dari tiga hari.

2. Sebaiknya dalam berjalan harus pelan-pelan ramah dalam tutur kata sehingga orang yang mendengar merasa tentram hatinya, tidak boleh tidak boleh berbicara dengan suara yang keras dikarenakan sombong sebab dilarang oleh Allah SWT sebab perkataan seperti itu tidak enak didengar dan akan menyakitkan hati seperti tidak enaknya mendengar suara keledai.
Yahya bin Jubair Ath-Thaa’I meriwayatkan dari ghudaif bin Harits dia berkata: “saya duduk dekat Abdullah bin Amr bin Al-Ashi: saya mendengar dia berkat sesungguhnya kuburan berkata dengan yang dikuburnya. Kuburan itu berkata “Hai anak Adam apa yang sudah kamu mencelakakan kamu hingga kamu masuk ke lubangku? Apakah kamu tidak tahu bahwa saya rumah tempat kamu sendiri? Apakah kamu tidak tahu bahwa saya tempat yang sangat gelap? Apakah kamu tidak tahu bahwa saya tempat kebenaran? Apa yang mencelakakan kamu hingga kamu masuk ke lubangku? Sesungguhnya kamu ketika di dunia sangat sombong sekali
Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda:
مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ حيلاء لاَيَنْظُرُ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya:
Siapa orang yang menjelekkan pakaiannya dikarenakan kesombongan, Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat (mengacuhkannya)

Yang dimaksud pertengahan dalam berjalan dan berkata-kata ialah berjalan dengan baik dan berkata –kata pakai tata krama yang sopan santun, serta lemah lembut, sehingga orang yang melihat dan mendengar tertarik.

D. Kesimpulan
Allah SWT telah memberi hikmah pada Luqman dengan demikian dia bersyukur kepadanya dengan pemberian nikmat tersebut syukur kepada Allah bukan untuk kepentingan Allah tetapi untuk kepentingan dirinya sendiri sebab siapa yang bersyukur atas nikmat pemberian Allah, Allah akan menambah nikmatnya sebaiknya kalau kufur atau mengingkarinya siksanya yang akan diterima.
Wasiat Luqman pada anaknya agar meng-Esakan Allah tidak boleh musyrik atau menyekutukan dengan makhluk-Nya. Allah memerintahkan agar seorang anak berbakti kepada kedua orang tuanya sebab kedua orang tuanyalah yang telah memeliharanya dari mulai lahir sampai dapat mandiri. Jika kedua orang tuanya memerintahkan berbuat musyrik atau berbuat dosa maka tidak boleh dituruti.
Luqman wasiat kepada anaknya agar anaknya selalu waspada dan menjaga diri dari pada pekerjaan yang dilarang sebab sebesar apapun perbuatan dan amal manusia dapat dilihat oleh Allah.
Selanjutnya nasihatnya harus selalu mendirikan sholat mengajak manusia berbuat kebajikan mencegah kemunkaran, bersabar dalam menghadapi cobaan, jangan berlaku sombong dalam berjalan dan berkata-kata.
Nasihat Luqman kepada anaknya itu merupakan tauladan bagi kita semua terutama kedua orang tua di dalam mendidik anak-anak di lingkungan keluarga sebab pendidikan di dalam keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan yang utama.
Tetapi di dunia muslim jaman sekarang suka terlupakan dikarenakan kesibukan seorang bapak, sibuk dengan urusan mencari nafkah sehingga tidak menyempatkan mendidik anaknya begitu pula seorang ibu, apalagi kalau seorang ibu sudah berstatus sebagai wanita karir.
Demikianlah semoga makalah ini ada manfaatnya khususnya bagi penulis umumnya bagi para pembaca. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam segala segi kritik dan saran yang diharapkan dari pembaca makalah ini terutama dari dosen pembimbing Prof. DR. H. Maksum, MA..
Wallahu a’lam bishowab

Nopember, 26, 2005



DAFTAR PUSTAKA

Abdul Hasim Djarullah Az Zamarsyary, Tafsir Kasysyapy
Abu Jafar Muhammad Ibnu Jirir Atabari, Tafsir Ath Thabary.
Aridh, Ali Hasan Al-. Sejarah Dan Metodologi Tafsir. Terj. Ahmad Arkom, CV Rajawali Press. Jakarta, 1992
Adam, Charles C. Islam and Modernism in Egypt. Oxford University Press. Oxford. 1993
Anwar. Rosihon, Melacak Unsur-Unsur Israliyyat Dalam Tafsir Ath-Thabari Dan Tafsir Ibn Katsir. Pustaka Setia. Bandung, 1999
Asfahani, Al-Raqib Al-. Mu’jam Mufrad Alfazh Al-Qur'an. Dar Al-Fikr, Beriut.t.t
Asyrie, Sumadjaja dan Rosi Yusuf. Indeks Al-Qur'an. Pustaka. Bandung 1984
Azami, Mustafa. Manhaj An-Naqd Inda Al-Muhaditsin: Nasy’atuh Wa Tarikhuhu. Mahtabah Al-Kautsar, Al-Manlakah Al-Arabiyyah As-Saudiyyah. 1990
Bisri, Cik Hasan. Penuntun Penyusunan Rencana Penelitian Dan Penulisan Skripsi. Logos. Jakarta. 1998
Bukhari, Abu Abdillah Bin Abd Ar-Rahmah Al-. Keagungan Dan Keindahan Syari’at Islam. Diterjemahkan oleh Rosihon Anwar, Pustaka Setia. Bandung, 1999
Bukhari, Al-Shahih Bukhari. Dar Al-Fikr. Beirut. T.t
Dzahabi, Muhammad Husein Al-. Al-Tafsir Wa Al Mufassirun. Juz I. Dar Al-Maktub Al-Haditsah. Mesir. 1976
_____, Penyimpangan-Penyimpangan Dalam Penafsiran Al-Qur'an. Terj. Machnun Husein. CV Rajawali Press. Jakarta. 1991
Departemen Agama, Tasir dan Terjemah Al-Qur'an
M. Jamaludi Al Quasyry Mahasi Naatutkwill
Muhamad Rasyid, Riaho Tafsir Al Kanar
Farmawi, Abd Al-Hayy Al-. Al-Bidayah I At-Tafsir Al-Maudhu’i. Maktabah Al-Jumhuriyyah. Mesir. t.t.



Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)