o BAHASA INDONESIA: MEMAHAMI PUISI - Anakciremai

Header Ads

  • Breaking News

    BAHASA INDONESIA: MEMAHAMI PUISI


    MEMAHAMI PUISI

    Ada tiga bentuk karya sastra, yaitu: prosa, puisi, dan drama. Puisi adalah karya sastra tertulis yang paling awal ditulis. Karya-karya sastra lama yang tertulis berbentuk puisi. Mahabarata, Ramayana yang berasal dari India adalah berbentuk puisi atau kakawin. Drama-drama Sophocles (Oedipus Sang Raja, Oedipus di Kolonus, dan Antigone) berbentuk puisi. Drama-drama William Shakespeare (Hamlet, Macbeth, dan Romeo dan Yuliet) juga berbentuk puisi. Karya-karya tersebut bersifat universal.
    Puisi adalah bentuk karya sastra yang bahasanya dipadatkan, dipersingkat, diberi irama, dengan bunyi yang padu, dan dengan pemilihan kata-kata bas (imajinatif). Kata-kata betul-betul terpilih agar memiliki kekuatan pengucapan. Walaupun singkat atau padat, namun berkekuatan. Karena itu, kata-kata dipilih yang memiliki persamaan bunyi (rima) dengan kata-kata lainnya. Kata-kata itu juga diharapkan mewakili makna yang lebih luas dan lebih banyak. Karena itu, kata-kata itu dicarikan konotasinya atau apa yang disebut bahasa figuratif.

    A. Ciri-ciri Kebahasaan dari Puisi
    Jika diuraikan lebih rinci, hal-hal yang menjadi ciri puisi adalah sebagai berikut:
    1. Pemadatan Bahasa
    Bahasa dipadatkan agar berkekuatan gaib. Karena itu, jika dibaca nampak bahwa baris-baris tidak membentuk kalimat dan alinea, tetapi membentuk larik dan bait yang sama sekali berbeda hakikatnya. Dengan perwujudan tersebut, diharapkan makna yang lebih luas. Berikut ini tiga bait puisi karya Chairil Anwar “Doa".

    Tuhanku
    Dalam termangu
    Aku masih menyebut nama-Mu

    Biar susah sungguh
    Mengingat Kau penuh seluruh
    Caya-Mu panas suci
    Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

    Bait pertama terdiri atas tiga larik. Masing-masing larik bukan kalimat. Kunci utama bait itu adalah kata termangu. Termangu dalam hal apa, kepada siapa, tentang apa, dan banyak pertanyaan lain. Mungkin penyair ingin mengatakan bahwa di dalam kegoyahan imannya kepada Tuhan, (termangu), ia masih menyebut nama Tuhan (dalam doa-doanya). Bait kedua dengan kata kunci susah. Susah dalam hal apa? Tentang apa? Karena apa? Ditafsirkan bahwa. Penyair sangat sulit berkonsentrasi dalam doa untuk berkomunikasi kepada Tuhan secara total (penuh seluruh). Dalam kegoncangan iman kesulitan berkonsentrasi untuk "dialog" dengan Tuhan memang dimungkinkan. Bait ketiga kata kuncinya adalah "lilin". Cahaya lilin ini mewakili cahaya yang sangat penting untuk menerangi kegelapan malam, ataukah mewakili cahaya yang rapuh dalam kegelapan malam. Mungkin penyair bermaksud untuk menyatakan bahwa cahaya iman dari Tuhan tinggal cahaya kecil di lubuk hati penyair yang siap padam (karena kegoncangan iman).

    2. Pemilihan Kata Khas
    Puisi Chairil Anwar di atas menggunakan kata-kata khas puisi, bukan kata-kata untuk prosa ataupun bahasa sehari-hari. Tentu saja tidak semua kata-katanya khas puisi, pasti ada kata-kata yang jelas seperti dalam prosa atau bahasa sehari-hari. Kalau semua kata-katanya khas puisi, puisinya menjadi gelap dan sulit dipahami.
    Dari puisi "Doa" tersebut ada beberapa kata yang sulit ditafsirkan secara langsung, seperti termangu, menyebut nama-Mu, susah sungguh, Caya-Mu panas suci. Kerdip lilin, kelam sunyi. Kata-kata tersebut tidak bermakna lugas tetapi bermakna kias
    Kata-kata yang dipilih penyair dipertimbangkan betul berbagai aspek dan efek pengucapannya. Tidak jarang kata-kata tertentu dicoret beberapa kali karena belum secara tepat mewakili gelora hati penyair (dalam hal ini dapat dilihat naskah asli puisi karya para penyair di Pusat Dokumentasi H.B. Yassin).
    Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam memilih kata adalah sebagai berikut:
    a. Makna Kias
    Sudah dijelaskan di depan bahwa makna kias dalam karya sastra banyak digunakan. Yang paling banyak menggunakan makna kias adalah puisi. Di samping puisi di depan, berikut ini dikutip dua bait puisi Ali Hasjmi, salah seorang penyair Angkatan Pujangga Baru berjudul "Menyesal".

    Pagiku hilang sudah melayang
    hari mudaku telah pergi
    Kini petang datang membayang
    Batang usiaku sudah tinggi

    Aku lalai di hari pagi
    Beta lengah di masa muda
    Kini hidup meracun hati
    miskin ilmu, miskin harta.

    Dalam puisi tersebut makna kias itu cepat dapat dipahami karena diberi jawaban pada baris berikutnya. Kata "pagi" diberi jawaban "muda". Kata "petang" diberi jawaban "batang usiaku sudah tinggi" (tua). Dalam puisi Chairil Anwar berikut makna kias lebih sulit ditafsirkan (dari judul "Aku").

    Aku ini binatang jalang
    Dari kumpulannya terbuang
    ... ...............................
    Luka dan bisa kubawa berlari
    Berlari
    Hingga hilang pedih peri (h).

    Pembaca harus menafsirkan makna lugas dari binatang jalang dari kumpulannya terbuang. Ini dapat diartikan orang yang selalu bersikap memberontak dan berada di luar organisasi formal. Karena yang sakit bukan fisik, tetapi jiwanya, maka “luka dan bisa (akan) dibawa berlari. Terus berlari”.
    b. Lambang
    Dalam puisi yang banyak digunakan lambang yaitu penggantian suatu hal atau benda ke hal lain atau benda lain. Ada lambang yang sifatnya lokal, kedaerahan, nasional, tetapi ada juga lambang yang sifatnya universal (berlaku untuk semua manusia). Misalnya bendera adalah lambang identitas negara (universal). Bersalaman adalah lambang persahabatan, pertemuan, atau perpisahan (universal). Berikut ini dikutip puisi yang mengandung lambang, yaitu beberapa bait puisi yang mengandung lambang, yaitu beberapa bait puisi Rendra berjudul "Surat Kepada Bunda Tentang Calon Menantunya".

    . .. ... ... ... ... .. . ... ... ...
    Burung dara jantan yang nakal
    Yang sejak dulu kau piara
    Kini terbang dan telah menemui jodohnya
    Ia telah meninggalkan kandang yang kaubuatkan
    Dan tiada akan pulang
    Buat selama-lamanya
    ………………………..

    Diri penyair sebagai orang yang setia di lambangkan dengan "burung darajantan". Selanjutnya pada bagian lain puisinya, Rendra menulis:

    ……………………………….
    Dan sepatu yang berat serta nakal
    Yang dulu biasa menempuh
    Jalan-jalan yang mengkhawatirkan
    Dalam hidup lelaki yang kasar dan sengsara
    Kini telah aku lepaskan
    Dan berganti dengan sandal rumah
    Yang tenteram, jinak dan sederhana
    ………………………….

    Dalam bait tersebut dinyatakan bahwa jejaka yang belum berumah tangga dilambangkan "sepatu yang berat dan nakal, sedangkan setelah menemukan jodohnya, ia menjadi “sandal rumah yang jinak dan sederhana”
    Lambang warna artinya memberi makna warna untuk mengganti makna lain. Misalnya warna hitam melambangkan kesedihan, warna putih kesucian, warna kuning kesetiaan, warna biru harapan, dan sebagainya. Lambang warna dapat kita hayati dalam "Balada Sumilah" karya Rendra berikut ini.

    …………………………….
    Tubuhnya lilin tersimpang di beranda
    Tapi halusnya putih pergi kembara
    ……………………………
    Bulan keramik putih tanpa darah
    Warna jingga adalah mata Samijo
    menatap ia, menatap amat tajamnya.
    Padamkan jingga apimu. Padamkan!
    Demi selaput sutraku putih: padamkan!

    Kata-kata (alusnya putih" berarti rohnya yang suci (karena Sumilah telah mati). Kata ''jingga'' dalam puisi ini menggambarkan kebencian. Dalam puisi ini diceritakan Samijo sangat benci kepada Sumilah, pacarnya, karena IA mengira Sumilah telah mengkhianatinya.
    Lambang bunyi artinya makna khusus yang diciptakan oleh bunyi-bunyi atau perpaduan bunyi-bunyi tertentu. Misalnya bunyi seruling yang mendayu-dayu mengingatkan kita akan tanah Pasundan (priangan). Bunyi gamelan membawa kita kepada alam Jawa Tengah dan Jawa Timur. Begitu juga bunyi-bunyi khas Bali, Ambon, dan sebagainya akan melambangkan kedaerahan tertentu. Di samping itu vokal, konsonan, dan perpaduan vokal dan konsonan dapat membentuk sifat tertentu dari puisi. Hal ini juga termasuk lambang bunyi. Berikut ini puisi Ramadhan K.H. yang kental dengan lambang bunyi.

    Seruling di pasir ipis, merdu
    Antara gundukan pohon pina
    Tembang menggema di dua kaki
    Burangrang-Tangkuban Prahu
    Jamrut di pucuk-pucuk
    Jamrut di air tipis menurun

    Kata seruling menunjukan lambang tanah Pasundan dengan bunyi seruling yang meliuk-liuk penuh kedukaan, terlebih dikaitkan dengan gunung Burangrang (legenda lutung kasarung) dan Tangkuban Prahu (legenda Sangkuriang) lebih meyakinkan bahwa puisi ini bersifat duka.
    Lambang suasana artinya peristiwa atau keadaan yang tidak digambarkan apa adanya, tetapi diganti dengan keadaan lain. Misalnya, dalam bait puisi Rendra yang berjudul "Surat Cinta" ini terdapat lambang suasana:

    Kutulis surat ini
    Kala hujan gerimis
    Bagai bunyi tambur mainan
    Anak peri dunia yang gaib
    Dan angin mendesah
    Mengeluh dan mendesah

    Ungkapan "hujan gerimis" di atas melambangkan suasana sedih (duka) penyair karena cintanya kepada gadis pujaannya tidak direstui oleh orang tua gadis itu. Namun cintanya memang luar biasa besarnya, bergema, bergemuruh seperti (tambur mainan anak peri dunia yang gaib" lambang suasana juga pada kata-kata: lintang kemukus (bencana), barata yuda (huru-hara), dan sebagainya.

    c. Persamaan Bunyi atau Ritma
    Pemilihan kata-kata di dalam sebuah bans puisi maupun dari satu baris ke baris yang lay mempertimbangkan kata-kata yang mempunyai persamaan bunyi dan bunyinya merdu. Bunyi-bunyi yang berulang ini menciptakan konsentrasi dan kekuatan bahasa atau sering disebut daya gaib dari kata-kata seperti dalam mantra.
    Dalam puisi lama dan puisi modem sampai masa Chairil Anwar, persamaan vokal pada akhir baris sangat dipentingkan (rima akhir), seperti pada puisi "Doa" berikut ini:
    Tuhanku
    Dalam termangu
    Aku masih menyebut nama-Mu

    Biar susah sungguh
    Mengingatkan penuh seluruh

    ………………………………
    Tuhanku
    Aku hilang bentuk
    Remuk

    Bandingkan dengan puisi Angkatan Pujangga Baru karya Ali yang berjudul "Menyesal" ini:

    Pagiku hilang sudah melayang
    Hari mudaku sudah pergi
    Kini petang datang membayang
    Batang usiaku sudah tinggi

    Dalam pantun dan syair persamaan bunyi pada akhir baris lebih nampak karena menjadi syarat keindahan puisi lama yang bersajak aaaa (untuk syair) dan abab (untuk pantun).

    Pantun Tanam melati di mana-mana
    Ubur-ubur sampingan dua
    Sehidup semati kita bersama
    Satu bubur kita berdua

    Piring putih piring bersabun
    Disabun anak orang Cina
    Memutih bunga dalam kebun
    Setangkai saja yang menggila

    Syair
    Pungguk bangsawan hendak menitir
    Tidak diberi kakanda satu
    Adinda jangan tuan bersyair
    Jikalau tuan guruh dan petir

    lnilah taman orang bahari
    Pungguk, wahai jangan kemari
    Bukannya tidak kakanda beri
    Jikalau tuan digoda peri
    (Syair di Burung Pungguk)

    Dalam puisi-puisi setelah tahun 1945, persamaan bunyi dapat pada berbagai kata pada satu baris, seperti karya Rendra berjudul “Ballada Terbunuhnva Atmo Karpo" berikut ini:

    Dengan kuku-kuku besi, kuda menebah perut bumi
    Bulan Perkhianat, gosokkan tubuhnya pada pucuk-pucuk para
    Mengepit kuat-kuat penunggang perampok yang diburu
    Surai bau keringat basah, jenawipun telanjang.

    Dalam puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri, persamaan bunyi itu malahan dibuat sangat penting seperti dalam mantra. Hal tersebut dapat dihayati dalam puisinya “Sepisaupi" berikut ini:

    sepisau luka sepisau duri
    Sepikul dosa sepikan sepi
    sepisan duka serisau diri
    sepisan sepi sepisan nyanyi

    Sepisaupa sepisaupi
    Sepisapunya sepikan sepi
    seplsaupa sepisaupi
    sepikul diri keranjang duri
    (O, Kapak, Amuk)

    3. Kata Konkret
    Penyair ingin menggambarkan sesuatu secara lebih konkret. Oleh karena itu, kata-kata diperkonkret. Bagi penyair mungkin dirasa lebih jelas karena lebih konkret, namun bagi pembaca sering lebih sulit ditafsirkan maknanya. Sebagai contoh, Rendra dalam "Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo" membuat kata konkret berikut ini:
    Dengan kuku - kuku besi, kuda menebah perut bumi
    Bulan berkhianat, gosokkan tubuhnya pada pucuk-pucuk para
    Mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu
    Surai bau keringat basah. Walaupun telanjang.

    Kaki kuda yang bersepatu besi disebut "kuku besi". Kuda itu menapaki. Jalan tidak beraspal dan hal itu disebut "kulit bumi". Atmo Karpo sebagai perampok yang naik kuda digambarkan dengan "penunggang perampok yang diburu". Karena perjalanan naik kuda itu sudah lama, Atmo Karpo berkeringat. Hal itu diperkonkret dengan "surat bau keringat basah.” Penunggang kuda itu siap berperang dan sudah menghunus samurai (jenawi). Hal ini diperkonkret dengan “jenwipun telanjang”.

    4. Pengimajian
    Penyair juga menciptakan pengimajian (imaji = citraan) dalam puisinya. Melalui pengimajian, apa yang digambarkan seolah-olah dapat dilihat (imaji, visual), didengar (imaji auditif), dan dirasa (imaji taktil).
    Imaji visual dapat dihayati dalam bagian puisi Toto Sudarto Bachtiar yang berjudul "Gadis Peminta-minta" berikut ini:

    Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
    Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
    Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
    Tapi kotaku jadi hilang. tanpa iiwa.
    …………………………..
    Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
    Melintas-Jintas di atas air kotor. tapi Yang begjtu kauhafal.

    Dalam puisinya "Doa", Chairil Anwar juga menciptakan imaji visual seperti berikut ini:

    ………………
    Tuhanku
    Aku hilang bentuk
    remuk

    Tuhanku
    Aku mengembara di negeri asing

    Tuhanku
    Di pintumu aku mengetuk
    Aku tidak bisa berpaling.

    Dengan kata-kata tersebut di atas, pembaca seolah-olah melihat lebih jelas kedudukan penyair (meskipun semua secara psikologis).
    Dalam puisinya "Cipasung" berikut ini, Acep Zamzam Noer membuat imaji visual berlatar pedesaan dan persawahan untuk mengungkapkan iman keagamaannya agar menjadi lebih konkret.

    …………………………………..
    Dengan ketam kupanen terus kesabaran hatimu
    Cangkulku iman dan sajadahku lumpur yang kental
    Langit yang menguji ibadahku meneteskan cahaya redup,

    ……………………………………
    Mendekatlah padaku dan dengarkan kasidah ikan-ikan
    Kini hatiku kolam yang menyimpan kemurinianMu
    (di luar kata, 1989)

    Imaji auditif (pendengaran) adalah penciptaan ungkapan oleh penyair, sehingga pembaca seolah-olah mendengarkan suara seperti yang digambarkan oleh penyair. Puisi "'Asmaradana" karya Goenawan Mohammad berikut memiliki ungkapan yang dapat dinyatakan sebagai imaji auditif

    Ia dengar kepak sayap kelelawar dan gugur sisa hujan daTi daun
    Karena angin pada kemuning. ia dengar resah kuda serta
    Langkah pedati. Ketika langit bersih menampakkan bima sakti.
    …………………………………………
    (Asmaradana,1998)

    Imaji taktil (perasaan) adalah penciptaan ungkapan oleh penyair sehingga pembaca ikut merasakan sesuatu yang cukup mendalam. Dalam puisinya "Yang Terhempas dan Yang Putus", Chairil Anwar mengungkapkan rasa takut mencekam menghadapi maut, sehingga pembaca ikut merasakan perasaan akan mati tersebut:

    Kelam dan angin lalu mempesiang diriku
    menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin
    Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
    Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d.) sampai juga deru angin
    (Yang Terhempas dan Yang Putus")

    Rasa sedih Anjasmara dalam puisi "Asmaradana" karya Goenawan Mohammad dapat ikut dihayati oleh pembaca karena kecakapan penyair dalam menyusun kata-kata yang tepat:

    ………………………………………..
    Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi pada rum put halaman ada tampak yang menjauh ke utara, ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba karena ia tak berani lagi.
    (Pariksit, 1972)

    Chairil Anwar dalam puisinya "Senja di Pelabuhan Kecil" juga menciptakan imaji taklik, sehingga pembaca ikut merasakan kedukaan secara mendalam.

    …………………………….
    Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
    menyisir semenanjung, masih pengap harap
    sekali tema di ujung dan sekalian selamat jalan
    dari pantai keempat, sedu penghabisan tiba terdekap
    (Chairil Anwar, 1949)

    5. Irama (Ritma)
    Irama (ritma) berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. dalam puisi lama dan puisi pada umumnya, irama berupa pengulangan yang teratur dari bagian suatu baris puisi sehingga menimbulkan gelombang teratur yang menciptakan keindahan puisi. Irama dapat juga berarti pergantian keras lembut, tinggi rendah, panjang pendek secara berulang-ulang menciptakan gelombang yang memperindah puisi.
    Dalam puisi Angkatan Pujangga Baru, pemotongan baris-baris puisi secara teratur dapat menciptakan irama, misalnya dalam puisi "Menyesal" karya Ali Hasyim berikut ini:

    Pagiku hilang / sudah melayang
    Hari mudaku / telah pergi
    Kini petang / datang membayang
    Batang usiaku / sudah tinggi

    Dalam puisi-puisi Chairil Anwar kesatuan baris-baris puisi diikat oleh pengulangan kata tertentu sehingga menciptakan gelombang yang teratur, seperti dalam "Doa" berikut ini:

    Tuhanku
    Dalam termangu
    Aku masih menyebut nama-Mu

    Biar susah sungguh
    mengingat Kau penuh seluruh
    ………………………….

    Tuhanku
    Aku hilang bentuk
    Remuk
    Aku mengmbara di Negeri asing
    Tuhanku
    di pintu-Mu aku mengetuk
    Aku tidak bisa berpaling.
    (Chairil Anwar, 1947)

    6. Tata Wajah
    Dalam puisi mutakhir (setelah tahun 1976), banyak ditulis puisi yang mementingkan tata wajah, bahkan penyair berusaha menciptakan puisi seperti gambar. Oleh karena itu, puisinya sering disebut puisi konkret karena tata wajahnya membentuk gambar yang mewakili maksud tertentu. Dibandingkan tata wajah non-konvensional, jauh lebih banyak puisi dengan tata wajah konvensional (apa adanya, tanpa membentuk gambar atau bentuk wajah tertentu).
    Puisi-puisi berikut dengan tata wajah yang tidak lazim atau tidak seperti konvensi (aturan) tata wajah puisi pada umumnya.

    SAJAK TRANSMIGRAN II

    Dia selalu singkong
    dan terus - menerus singkong
    hari ini singkong
    tadi malam singkong
    besuk mungkin singkong
    besuknya lagi juga singkong
    di rumah sepotong singkong
    di ladang seikat singkong
    di pasar segerobak singkong
    di rumah tetangga sepiring singkong
    enam bulang lagi tetap singkong
    setahun lagi tetap singkong
    sepuluh tahun masih singkong
    duapuluh tahun makin singkong
    dan limapuluh tahun kemudian
    transmigran beruban
    sakit –sakitan
    mati
    lalu dikubur di ladang singkong
    1983
    (F. Rahadi, 1983)

    Puisi di atas berisi kritikan ketidakberhasilan program transamigrasi. Transmigran-transmigran gunung kidul transmigrasikan ke Sumatra sebetulnya ingin terbebas dari makan singkong. Tetapi temyata di daerah transmigrasi (Sumatra), mereka tetap menanam singkong, makan singkong, serba-serbi singkong, bahkan setelah 50 tahun bertransmigrasi, ia meninggal dunia dan dikuburkan di ladang singkong.
    Puisi berikut ini juga dengan tata wajah yang tidak konvensional yang juga ditulis olen F. Rahardi. Penyair mengkritik tentang koruptor yang merajalela di negeri ini dalam puisinya "Doktorandus Tikus I" berikut ini:

    DOKTORANDUS TIKUS I

    selusin toga
    me
    nga
    nga
    seratus tilrus berkampus
    diatasnya
    dosen dijerat
    profesor diracun
    kucing
    kawin
    dan bunting
    dengan predikat
    sangat memuaskan
    1983

    Tata wajah menyerupai huruf Z dari puisi Sutardji Calzoum Bachri sangat terkenal. Judulnya adalah "Tragedi Winka dan Sihka" seperti berikut ini:
    Kawin
    Kawin
    Kawin
    kawin
    kawin
    ka
    Win
    ka
    Win
    Ka
    Win
    Ka
    Win
    Ka
    winka
    winka
    winka
    winka
    winka
    winka
    sih
    ka
    sih
    sih
    ka
    sih
    sih
    sih
    sih
    ka
    sih
    sih
    sih
    sih
    sih
    sih
    ka
    Ku
    (Sutardji C.B., 1976)

    Winka kebalikan dari kawin, artinya perkawinan yang gagal. Sihka kebalikan dari kasih, artinya karena perkawinannya gagal maka kasih itu menjadi kebencian. Baris yang menuju ke kanan artinya semakin besar tingkatannya, sedangkan baris yang menjauh ke kiri artinya makin mengecil. Sementara yang hanya satu suku kata artinya orang yang kawin itu sudah putus ( sendiri-sendiri).
    Puisi Sutardji yang berjudul "Shang Hai" berikut ini juga dengan tata wajah yang non-konvensional.

    SHANG HAI

    ping di atas pong, pong di atas ping
    ping ping bilang pong
    pong pong bilang ping
    mau pong? Bilang ping
    mau mau bilang pong
    mau ping? Bilang pong
    mau mau bilang ping
    ya pong ya ping
    ya ping ya pong
    tak ya pong tak ya ping
    ya tak ping ya tak pong
    kutakpunya ping
    pinggir ping kumau pong
    tak tak bilang ping
    pinggir pong kumau ping
    tak tak bilang pong
    sembilu jarakMu merancap nyaring
    1973
    (Sutardji Calzoum E.)

    B. Hal Yang diungkapkan Penyair
    Jika di depan dibahas aspek kebahasaan dari puisi, maka berikut ini dikemukakan apa yang diungkapkan oleh penyair melalui puisinya. Dalam hal ini akan dibahas tema, nada dan suasana, perasaan, dan amanat dari puisi.
    1. Tema Puisi
    Tema adalah gagasan pokok (subject-matter) yang dikemukakan oleh penyair melalui puisinya. Tema mengacu pada penyair. Pembaca sedikit banyak harus mengetahui latar belakang penyair agar tidak salah menafsirkan tema puisi tersebut. Karena itu tema bersifat khusus (adiacu dari penyair). Obyektif (semua pembaca harus menafsirkan sarana), dan lugas (bukan makna kias yang diambil dari konotasinya).
    Tema yang dapat dibahas di sini misalnya tema ketuhanan (religius), tema kemanusiaan. tema cinta. tema patriotisme. tema periuamzan. Tema kegagalan hidup. tema keindahan alam tema keadilan, tema kritik sosial tema demokrasi. dan tema kesetiakawanan
    a. Tema Ketuhanan (Refil!ius)
    Tema ketuhanan sering kali disebut tema religius filosofis, yaitu tema puisi yang mampu membawa man usia untuk lebih bertakwa, lebih menghayati kekuasaan Tuhan, dan merenungkan Tuhan beserta alam seisinya.
    Drama-drama Yunani diklasifikasikan bertema religius karena menampilkan ketidakberdayaan manusia di hadapan. Tuhan Sang Maha Penguasa, Maha Bijaksana, dan Maha Pengasih/Pemurah. Puisi Chairil Anwar yang menunjukkan ketidakberdayaannya menghadapi maut dalam "Yang Terempas dan Yang Putus" juga dapat dinyatakan sebagai puisi yang bertema . Religius. Begitujuga puisi-puisi karya penyair berikut ini:
    Y.E. Tatengkeng "Anakku"; Amir Hamzah "Padamu Jua"; Sanusi Pane "Candi Mendut'" Chairil Anwar "Doa'" Kirdjo Mulyo “Tuhanku”; Rendra “Balada Penyaliban”; Suparwoto Wiraatmadja “Senandung Natal”; Budiman S. Hartono “Doa”; Sapardi Djoko Damono “Perahu Kertas”, “Siapakah Engkau”; Emha Ainun Najib "99 Untuk Tuhanku" dan Mustofa Bisri "Sujud" dan "Doa Aisyah".
    Bandingkan "Doa" Chairil Anwar dan "Doa" karangan Budiman S. Hartoyo berikut ini:

    DOA

    Kepada Pemeluk Teguh
    Tuhanku
    Dalam termangu
    Aku masih menyebut nama-Mu
    Biar susah sungguh
    mengingat kau penuh seluruh
    Caya-Mu panas suci
    tinggal kerdip lilin ke kelam sunyi

    Tuhanku
    Aku hilang bentuk remuk

    Tuhanku
    aku mengembara di negeri asing

    Tuhanku
    Di pintu-Mu aku mengetuk
    Aku tidak bisa berpaling
    (Chairil Anwar, Deru Campur Debu, 1960)

    DOA

    Aku mengenal-Mu
    Aku melihat-Mu
    Tuhanku
    (Ah, apakah Kau tersenyum
    Melihat tingkah-laku yang lucu
    Bersimpuh begini?) .

    Jangan memandangku begitu, Tuhanku
    Betapa pun!
    Jangan palingkan Wajah-Mu
    Betapa pun!
    Ya, betapa pun telah Kau saksikan
    pola-tingkah-laku selama ini
    seperti mainan gasing di tengah galau kehidupan
    Yang Kau putar-putar
    Apa yang Kau maksud
    dengan kediam-diaman begitu?
    Apakah jelas Kau lihat
    dosa-dosaku?
    Ah. Engkau diam saja!)

    Betapa pun, ya Allah
    Jangan palingkan Wajah-Mu Betapa pun kusandang dosa-dosaku dan dengan rasa malu
    Aku datang menghadap-Mu
    Tapi pandang-Mu jangan begitu ...
    (Budiman S. Hartoyo, Sebelum Tidur, Jakarta: Pustaka Jaya, 1977)

    Dalam puisi tersebut, penyair benar-benar secara khusyuk berserah diri kepada Tuhan dan ingin senantiasa hidup di dalam cahaya kasih Tuhan.

    b. Tema Kemanusiaan
    Melalui peristiwa, penyair berusaha untuk meyakinkan kepada pembaca tentang ketinggian martabat manusia. Karena itu, manusia harus dihargai, dihormati, diperhatikan hak-haknya, dan diperlakukan secara adil dan manusiawi. Perlakuan yang mengorbankan martabat manusia, apapun alasannya harus ditentang atau tidak disetujui.
    Puisi karya Toto Soedarto Bachtiar berikut ini bertemakan kemanusiaan karena menyatakan bahwa meskipun hanya pengemis, ia manusia yang bermartabat tinggi dan martabatnya lebih tinggi dari Menara Katedral. Puisinya tersebut berjudul “Gadis Peminta-minta".

    GADIS PEMINTA-MINTA

    Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
    Senyummu terlalu kekal untuk kenaI duka
    Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
    Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

    Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
    Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
    Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
    Gembira dan kemayaan riang

    Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
    Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kauhafal
    Jiwa begitu mumi, terlalu murni.
    Untuk bisa membagi dukaku

    Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
    Bulan di atas itu, tak ada yang punya
    Dan kotaku, ah kotaku
    Hidupnya tak lagi punya tanda
    Toto Sudarto Bachtiar, Suara

    Penyair menyadarkan kepada kita bahwa “gadis kecil berkaleng kecil” itu harus kita hargai, kita perhatikan, kita tolong karena ia manusia juga seperti kita.
    Rendra banyak menulis puisi-puisi dengan tema kemanusiaan yang menyadarkan pembaca untuk selalu menghargai martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan. Hal itu dapat kita hayati antara lain dalam puisi Rendra yang berjudul "Orang-orang Miskin" berikut ini:

    ORANG-ORANG MISKIN
    Orang-orang miskin di jalan,
    yang tinggal di dalam selokan,
    yang kalah di dalam pergulatan,
    yang diledek oleh impian
    janganlah mereka ditinggalkan.

    Angin membawa bau baju mereka.
    Rambut mereka melekat di bulan purnama.
    Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
    mengandung buah jalan raja.

    Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
    Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
    Tak bisa kamu abaikan.
    ……………………………………………………….
    Tangan-tangan kotor dari jalanan
    meraba-raba kaca jendelamu.
    Mereka tak bisa kamu hindarkan.

    Jumlah mereka tak bisa kamu mistik jadi nol.
    Mereka akan menjadi pertanyaan
    yang mencegat ideologimu.
    Gigi mereka yang kuning
    akan meringis di muka agamamu.
    Kuman-kuman sipilis dan t.b.c. dari gang-gang gelap
    akan hinggap di gorden presidenan
    dan buku programma gedung kesenian.

    Orang-orang miskin berhasil sepanjang sejarah,
    bagai udara panas yang selalu ada,
    balai gerimis yang selalu membayang
    orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
    tertuju ke dada kita.
    atau ke dada mereka sendiri.
    kenangkanlah:
    orang - orang miskin
    juga berasal dari kemah Ibrahim
    Yogya
    4 Februari
    1978

    c. Patriotisme
    Dengan puisi yang bertema patriotisme, penyair membawa pembaca untuk meneladani orang-orang yang telah berkorban demi bangsa dan tanah air. Bahkan mereka reIa mati demi kemerdekaan. Puisi-puisi seperti "Diponegoro", "Karawang Bekasi" (Chairil Anwar), "Pahlawan Tak Dikenal" (Toto Sudarto Bactiar), "Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini" (Taufiq Ismail), dan "Negeriku" (Mustofa Bisri).
    Berikut ini dikutip puisi patriotik berjudul "Diponegoro" (Chairil Anwar):

    Chairil Anwar
    DIPONEGORO

    Di masa pembangunan ini
    Tuan hidup kembali
    Dan bara kagum menjadi api
    Di depan sekali tuan menanti
    Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali
    Pedang di kanan, keris di kiri
    Berselubung semangat yang tak bisa mati

    Maju
    lni barisan tak bergenderang-berpalu
    Kepercayaan tanda menyerbu
    Sekali berarti.
    Sudah itu mati

    Maju
    Bagimu negeri Menyediakan api
    Punah di atas menghamba
    Binasa di atas ditinda
    Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
    Jika hidup harus merasai
    Maju
    Serbu
    Serang
    Terjang
    (Kerikil Tajam, 1978)

    Kita semua tahu bahwa Pangeran Diponegoro adalah patriot bangs a yang pantas diteladani oleh seluruh bangsa Indonesia. Di masa pembangunan ini semangat perjuangan Pangeran Diponegoro harus kita hidupkan di dalam jiwa kita semua (Tuan hidup kembali dan bara kagum menjadi api).
    Baris yang menyebutkan "pedang di kanan keris di kiri" berarti perjuangan Pangeran Diponegoro tidak hanya didukung kekuatan militer yang terlatih (pedang), namun juga kekuatan rakyat dan tradisi kraton/nenek moyang (keris). Karena itu disebut "'berselubung semangat yang tak bisa mati".
    Pasukan Diponegoro tidak mengumbar janji dan memancarkan kekuatan ("bergenderang-berpalu"). tetapi mengandalkan semangat kesetiakawanan dan saling percaya mempercayai ("kepercayaan tanda menyerbu"). Chairil Anwar menyadari bahwa jika hidup ini sudah diberi arti, maka kematian akan diterima dengan ke lapangan dada ("sekali berarti/sudah itu mati"). Ungkapan ini sangat terkenal.
    Para prajurit menyediakan semangatnya untuk negara. Mereka yakin jika pemimpin mereka (Diponegoro) wafat, mereka akan jadi budak penjajah yang ditindas ("punah di atas menghamba/Binasa di atas ditindas"). Mereka rela tidak ikut menikmati hasil perjuangannya, selagi masih hidup. Setelah meninggal dunia, mereka akan turut bahagia melihat buah dari perjuangannya ("sungguhpun dalam ajal baru tercapai/jika hidup harus merasai").
    Bait terakhir puisi tersebut menunjukkan kebulatan tekad para patriot untuk membela bangsa dan tanah air dengan bait ini: "maju, serbu, serang, terjang".

    d. Tema Cinta Tanah Air
    Jika tema patriotisme mengungkapkan perjuangan membela bangsa dan tanah air, maka tema cinta tanah air atau tanah kelahiran berupa pujaan kepada tanah tumpah darah, desa, kota kelahiran, atau negeri tercinta.
    Puisi-puisi Muhammad Yamin tahun 1920-an merupakan puisi tentang kecintaan penyair kepada tanah air (dalam hal ini Sumatra). Ayip Rosyidi menyatakan cintanya kepada tanah kelahirannya seperti dalam puisinya "Tanah Sunda" berikut ini:

    Ajip Rosyidi
    TANAHSUNDA

    Ke mana pun berjalan, terpandang
    daerah ramah di sana
    Ke mana pun ngembara, kujumpa
    manusia hati terbuka
    mesra Menerima

    Pabila pun berseru menggetar nyanyi
    suara rindu bersenandung duka
    Pabila pun bertemu, menggetar hati
    Sawah lepas terhampar luas
    dunia hijau muda

    Riak sungai pagi-pagi
    Angin keras menyibak rambut di dahi
    Dan kulihat tanah penuh darah
    tubuh beku berbaring kuyu
    menggapaikan tangan sia-sia
    berseru pun sia-sia

    Ah, dimana pun kaubukakan rangkuman
    Ku kan menetap di sana
    Kapan pun kaulambaikan tangan
    Ku kan datang
    Menekankan jantung ke tanah hitam
    (Surat Cinta Enday Rasidin, 1960).

    Puisi di atas menunjukkan cinta penyair yang tulus kepada tanah kelahiran yaitu tanah Sunda. Di tanah itu daerahnya ramah, orang-orangnya selalu mesra Menerima penyair. Daerah yang selalu dirindukan, selalu menggetarkan hati penuh sawah luas yang membentangkan harapan. Namun derita tidak lepas dari daerahnya itu yaitu "tanah penuh darah" dan "tubuh terbaring kuyu". Korban-korban kekejaman pemberontak tidak mendapatkan pertolongan yang memadai ("tangan sia-sial bersenyum sia-sia"). Walaupun bagaimana derita masyarakat di sana, penyair tetap mencintai tanah kelahirannya itu sampai kapan pun ("kapan pun kau lambaikan tanganku kan datang menekankan jantung ke tanah hitam").

    e. Tema Cinta Kasih antara Pria dengan wanita
    Nyanyian-nyanyian pop liriknya berupa puisi. Kebanyakan nyanyian pop bertemakan cinta antara pria dan wanita. Di dalam puisi lama pantun, kita juga mengenal tema cinta jenis ini yang diklasifikasikan menjadi pantun perkenalan, pantun berkasih-kasihan, pantun perpisahan, dan pantun ibu hati. Dari jenis pantun tersebut dapat dinyatakan bahwa tema cinta ini juga berarti putus cinta dan sedih karena cinta.
    Puisi-puisi Rendra banyak yang bertema cinta, terutama bagian pertama. dari kumpulan puisi Rendra Erimat Kumpulan Sajak yang berjudul "Romansa". Dua puisi dalam "Romansa" dan "Surat Kepada Bunda tentang Calon Menantunya". Berikut ini adalah puisinya "Surat Cinta":

    W.S. Rendra
    SURA T CINTA

    Kutulis surat ini
    kala hujan gerimis
    bagai bunyi tambur mainan
    anak-anak peri dunia yang gaib.
    Dan angin mendesah
    mengeluh dan mendesah.
    Wahai, dik Narti,
    aku cinta kepadamu!

    Kutulis surat ini
    kala langit menangis
    dan dua ekor belibis
    bercinta dalam kolam
    bagai dia anak nakal
    jenaka dan manis
    mengibaskan ekor
    serta menggetarkan bulu-bulunya.
    Wahai; dik Narti,
    kupinang kau menjadi istriku! .

    Kaki-kaki hujan yang runcing
    menyentuhkan ujungnya di bumi.
    Kaki-kaki cinta yang tegas
    bagai logam berat gemerlapan

    menempuh ke muka
    dan tak'kan kunjung diundurkan

    Selusin malaikat
    telah turun
    di kala hujan gerimis
    Di muka kaca jendela
    mereka berkaca dan mencuci rambutnya
    untuk ke pesta
    Wahai, Dik Narti,
    dengan pakaian pengantin yang anggun
    bunga-bunga serta kens keramat
    aku ingin membimbingmu ke altar
    untuk dikawinkan

    Aku melamarmu.
    Kau tabu dari dulu:
    tiada Lebih buruk
    dan tiada lebih baik
    dari yang lain...
    penyair dan kehidupan sehari-hari,
    orang yang bermula dari kata-kata
    yang bermula dari
    kehidupan, pikir dan rasa.

    Semangat kehidupan yang kuat
    bagai berjuta-juta jarum alit
    menusuki kulit langit:
    kantong rejeki dan restu wingit.
    Lalu tumpahlah gerimis.
    Angin dan cinta
    mendesah dalam gerimis.
    Semangat cintaku yang kuat
    Bagai seribu tangan gaib
    Menyebarkan seribu jarring

    Menyergap hatimu
    Yang selalu tersenyum padaku

    Engkau adalah putri duyung
    tawananku.
    Putri duyung dengan
    suara merdu lembut
    bagai angin laut,
    mendesahkan bagiku!
    Angin mendesah
    selalu mendesah
    dengan ratapnya yang merdu.
    Engkau adalah putri duyung
    tergolek lemas
    mengejap-ngejapkan matanya yang indah
    dalam jaringku.
    Wahai, putri duyung,
    aku menjaringmnu
    aku melamarmu.

    Kutulis surat ini
    kala hujan gerimis
    kema langit
    gadis manja dan manis
    menangis minta mainan
    Dua anak lelaki nakal
    bersendau gurau dalam selokan
    dan langit iri melihatnya.
    Wahai, Dik Narti,
    kuingin dikau
    menjadi ibu anak-anakku!
    (Empat Kumpulan Sajak, 1969).

    Rendra memiliki kelebihan-kelebihan dalam menciptakan simbul-simbul (lambang) dalam puisi cintanya ini. Seperti telah dijelaskan di depan, bait pertama menyebutkan "hujan gerimis" (artinya kesedihan yang diderita karena cinta kedua remaja tidak direstui orang tua di gadis). Ungkapan "tambur mainan anak peri dunia yang gaib" menyimbolkan bahwa cinta dua sejoli itu sangat kuat, sangat mendalam seperti kekuatan gaib yang sulit sekali dicegah atau dilarang.
    Baik kedua menunjukan Meskipun “langit menangis” (kesedihan karena cintanya tidak direstui semakin besar), namun dua sejoli itu semakin mendalam cintanya seperti percintaan "dua ekor belibis bercintaan dalam kolam/mengibaskan ekor/serta menggetarkan bulu-bulunya". Karena cintanya sudah semakin mendalam, maka penyair menyatakan melamar "Dik Narti"-nya.
    Bait ketiga menunjukkan lebih jelas tentang kekuatan dan keajaiban cinta antara sang penyair dengan Dik Narti yang diungkapkan sebagai «kaki-kaki hujan yang runcing kaki-kaki cinta yang tegas bagai logam berat gemerlapan". Dilanjutkan bait berikutnya "menempuh ke muka/dan tak kan kunjung diundurkan". .
    Bait kelima menyatakan bahwa cinta mereka memang sangat suci karena direstui oleh "selusin malaikat” yang turun menemui mereka berdua "di muka kaca jendela". Karena" itu, sang penyair siap untuk memperoleh pemberkatan perkawinan "dengan pakaian pengantin yang anggun bunga-bunga serta keris keramat".
    Bait keenam dan ketujuh merupakan penjelasan penyair tentang jati dirinya yang diungkapkan kepada kekasihnya bahwa ia adalah "penyair sederhana" dari kehidupan sehari-hari bermula dari kata dan kata bermula dari kehidupan, pikir, dan rasa". Penyair perlu menandaskan tentang cintanya yang sangat besar dan suci yang "bagai berjuta-juta jarum alit (kecil)/memasok kulit langit". Dari kekuatan dan kesungguhan cintanya itu penyair akan mendapatkan "kantong rejeki dan restu wingit". Karena itu kesedihan akan sirna, karena semangat cintanya yang kuat "bagai seribu tangan gaib" yang memikat hati sang gadis.
    Bait kedelapan menunjukkan kekaguman penyair kepada kekasihnya, seorang penyanyi seriosa terkenal; di Yogyakarta, karena itu disebut "putri duyung dengan/suara merdu lembut/bagai angin laut/mendesah kalah bagiku. Ketika cinta mereka sudah padu, maka “putri duyung” itu tidak berdaya dan “mengejap-ngejapkan matanya yang Indah / dalam jaringku”.
    Baik kesembilan menyatatakan bahwa cinta penyair betul-betul tulus karena diarah untuk mendapatkan anak. Karena itu, penyair menyatakan “kuingin dikau/menjadi ibu anak-anakku” kepada kekasihnya, Dik Narti
    Cinta antara pria dan wanita dapat juga menunjukkan kedukaan karena perpisahan seperti yang dikemukakan oleh Chairil Anwar dalam puisinya "Senja di Pelabuhan Kecil" berikut ini:

    SENJA DI PELABUHAN KECIL
    Buat Sri Ayati

    lni kali tidak ada yang mencari cinta
    di antara gudang, rumah tua, pada cerita
    tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut,
    menghembus diri dalam mempercayai mau berpaut.
    Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
    menyinggung muram, desir hari lari berenang
    menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
    dan kini, tanah, air tidur, hilang ombak.
    Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
    menyisir semenanjung, masih pengap harap
    sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
    dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.
    (Chairil Anwar, 1946).

    lsi puisi ini adalah kesedihan mendalam yang dialami penyair karena harus berpisah dengan pacar (kekasih)nya, yaitu Sri Ayati. Ada. tiga bait puisi yang Makin ke bawah Makin tinggi tingkat kesedihannya sampai mengungkapkan "sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan/dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap".

    f. Tema Kerakyatan/demokrasi
    Rakyat mempunyai kedaulatan atau kekuasaan. Tema kerakyatan/ demokrasi mengungkapkan kekuasaan rakyat melalui kekuasaannya itu. Puisi Hartojo Andangjaya berikut ini mengungkapkan tema kerakyatan tersebut:

    RAKYAT

    Rakyat ialah kita jutaan tangan yang mengayun
    dalam kerja di bumi di tanah tercinta
    jutaan tangan mengayun bersama
    membuka hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
    mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota
    menaikkan layar menebar jala
    meraba kelam di tambang logam dan batubara
    Rakyat ialah tangan yang bekerja

    Rakyat ialah kita
    otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka
    yang selalu berkata dua adalah dua
    yang bergerak di simpang siur garis niaga
    Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka

    Rakyat ialah kita
    beragam suara di langit tanah tercinta
    suara bangsi di rumah di rumah berjenjang bertangga
    suara kecapi di pegunungan jelita
    suara bonang mengambang di pendapa
    suara kecak di muka pura
    suara tife di hutan kebun' pala
    Rakyat ialah suara beraneka.

    Rakyat ialah kita
    puisi kaya makna di wajah semesta
    di darat
    hari yang berkeringat
    gunung batu berwarna coklat
    di laut
    angin yang menyapu kabut
    awan menyimpan topan
    Rakyat ialah puisi di wajah semesta

    Rakyat ialah kita
    darah di tubuh bangsa
    debar sepanjang masa
    Hartoyo Andangjaya, 1962

    Dalam puisi ini dinyatakan bahwa rakyat sangat berkuasa bahkan disebut “darah puisi di tubuh bangsa/debar sepanjang masa”.

    g. Tema keadilan Sosial (Protes Sosial)
    Tema keadilan sosial ditampilkan oleh puisi-puisi yang menuntut persamaan hak dan perjuangan bagi si miskin yang menderita. Puisi jenis ini juga disebut puisi protes sosial karena biasanya mengungkapkan prates terhadap ketidakadilan di dalam masyarakat atau mengingkatkan kepada si kaya untuk. memikirkan si miskin.
    Puisi Rendra berikut ini menunjukkan protes terhadap tidak adanya keadilan sosial oleh karena perbedaan antara "burung kondor" (rakyat jelata yang miskin) dengan "Mastodon" (pejabat kaya yang korup), dalam puisinya "Sajak Burung-burung Kondor":
    SAJAK BURUNG-BURUNG KONDOR

    …………………………………………..
    Para tani-buruh bekerja,
    berumah di gubug-gubug tanpa jendela,
    menanam bibit di tanah yang subur,
    memanen hasil yang berlimpah dan makmur,
    namun hidup mereka sendiri sengsara

    Mereka memanen untuk -tuan tanah
    yang mempunyai istana indah.
    Keringat mereka menjelma menjadi emas
    yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa
    Dan bila mereka menuntut peraturan pendapatan,
    para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,
    dan menjawab dengan mengirim kondom.
    ………………………………..

    Beribu-tibu burung kondor,
    berjuta- juta burung kondor.
    Bergerak menuju ke gunung tinggi,
    Dan di sana mendapat hiburan dari sepi.
    Karena hanya sepi,
    mampu menghisap dendam dan sakit hati.

    Burung-burung kondor menjerit.
    Di dalam marah menjerit
    Tersingkir ke tempat-tempat yang sepi.

    Burung-burung kondor menjerit,
    Di batu-batu gunung menjerit,
    Bergema di tempat-tempat yang sepi.

    Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu,
    Mematuki batu-batu, mematuki udara,
    Dan di kota orang-orang bersiap menembaknya.
    Yogya, 1973.

    Dalam puisi tersebut di atas dikemukakan bahwa rakyat jelata yang miskin (burung-burung kondor) tidak mendapatkan bagian rejeki yang telah dikuasai oleh para mastodon yang seralcah (mastodon adalah banteng besar di Amerika Latin yang melambangkan penguasa kaya raya yang serakah dan tidak mau turun tahta).

    h. Tema Pendidikan Budi Pekerti
    Puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka hingga Angkatan 1945 kebanyakan ditulis oleh para guru. Karena itu, tema pendidikanl budi pekerti begitu kuat. Gurindam sebagai jenis puisi lama juga mengemukakan nasihat-nasihat.
    Puisi Ali Hasjmi yang berjudul '"Menyesal" ini berisi pendidikan atau nasihat agar para remaja mengisi hidup masa remaja untuk mempersiapkan masa depan.
    Ali Hasjmi

    MENYESAL

    Pagiku hilang sudah melayang
    Hari mudaku sudap pergi
    Sekarang petang datang membayang
    Batang usiaku sudah tinggi

    Aku lari di hari pagi
    Beta lengah di masa muda
    Kini hidup meracun hati,
    Miskin ilmu, miskin harta

    Akh, apa gunanya kusesalkan,
    Menyesal tua tiada berguna,
    Hanya menambah luka siksa.
    Kepada yang muda kuharapkan,
    Atur barisan di pagi hari
    Menuju ke arah padang bakti
    (Puisi Barn, 1954).

    Bahwa kaum muda harus mempersiapkan masa mud a untuk menyongsong masa depan itu terdapat pada bait terakhir "atur barisan di hari pagi/menuju ke-arah padang bakti!".
    Puisi karya Asrul Sani yang berjudul "Surat Dari Ibu" ini juga bertema pendidikan, yaitu nasihat seorang ibu kepada anaknya agar mengembara untuk mencari pengetahuan dan pengalaman sebanyak mungkin agar hidupnya dapat kokoh.
    Asrul Sani

    SURAT DARI IBU

    Pergi ke dunia anak-anaku sayang
    pergi ke hidup bebas!
    Sesama angin masih angin buritan
    dan matahari pagi menyinar daun-daunan
    dalam rimba dan padang hijau.

    Pergi ke laut lepas, anakku sayang
    pergi ke alam bebas!
    Sesama hari belum petang
    dan warna senja belum kemerah-merahan
    menutup pintu waktu lampau.

    Jika bayang telah pudar
    dan elang laut pulang ke sarang
    angin bertiup ke benua
    Tiang-tiang akan kering sendiri
    dan nakhoda sudah tahu pedoman
    Boleh engkau datang padaku!

    Kembali pulang, anakku sayang
    kembali ke balik malam!
    Jika kapalmu telah rapat ke tepi
    Kita akan bercerita
    "Tentang cinta dan hidupmu pagi hari"
    (1984)

    Setelah pemuda memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup, dinyatakan dengan "Jika bayang telah pudar/dan elang laut pulang ke sarang angin bertiup ke benua tiang-tiang akan kering sendiri dan nakhoda sudah tahu pedoman Boleh engkau datang padaku!" Pada bait terakhir, sang ibu meminta anaknya "pulang kembali ke balik malam untuk "bercerita tentang cinta dan hidupmu pagi hari".

    i. Tema-tema Lain
    Kelompok penyair dari Bandung sekitar tahun 1970-an menulis apa yang disebut "Puisi mBeling", yaitu puisi yang main-main tidak berkesungguhan. Namun sebenarnya puisi-puisi mbeling ini banyak yang bertema protes sosial. Puisi-puisi Yudhistira Adinugraha termasuk puisi-puisi mBeling ini. Berikut ini dikemukakan puisi Yudhistira yang berjudul "Biarin".

    Yudhistira ANM Massardi
    BIARIN

    kamu bilang hidup ini brengsek. Aku bilang biarin
    kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin
    kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin
    kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin

    habisnya, terus terang saja, aku nggak percaya sama kamu
    Tak usah marah. Aku tahun kamu orangnya sederhana
    cuman, karena kamu merasa asing saja makanya kamu selalu bilang seperti itu.

    kamu bilang aku bajingan. Aku bilang biarin
    kamu bilang aku perampok. Aku bilang biarin
    soalnya, kalau aku nggak jadi bajingan mau jadi apa coba, lonte?
    aku laki-Iaki. Kalau kamu nggak suka kepadaku sebab itu
    aku rampok hati kamu. Tokh nggak ada yang nggak perampok di dunia ini. Iya, nggak? Kalau nggak percaya tanya saja sama polisi.

    habisnya, kalau nggak kubilang begitu mau apa coba
    bunuh diri? Itu lebih brengsek daripada membiarkan hidup ini
    berjalan seperti kamu sadari sekarang ini.

    Kamu bilang itu melelahkan. Aku bilang biarin
    kamu bilang itu menyakitkan
    (Sajak Sikat Gigi, 1974).

    Sikap masa bodoh penyair ini diekspresikan sebagai reaksi terhadap keadaan dunia yang tidak menentu. Puisi dengan tema main-main tetapi mengandung sindiran keras juga kita dapat pada puisi~puisi Sutardji Calzoum Bachri. Berikut ini dikemukakan puisinya "Shang Hai" sebagai contoh:

    SHANG HAI

    ping di atas pong pong di atas ping
    ping ping bilang pong
    pong pong bilang ping
    mau pong? Bilang ping
    mau mau bilang pong
    mau ping? Bilang pong
    mau mau bilang ping
    ya pong ya pin
    ya pmg ya pong
    tak ya pong tak ya ping
    ya tak ping ya tak pong
    kutakpunya ping
    pinggir ping kumau pong
    tak tak bilang ping
    pinggir pong kumau ping
    tak tak bilang pong
    sembilu jarakMu merancap nyaring
    1973

    Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohammad menjadikan cerita-cerita lama sebagai renungan kehidupan. Cerita ""Damar Wulan-Minakjinggo" yang antara lain juga mengisahkan perpisahan antara Damar Wulan dengan Anjasmara seperti dalam puisinya "Asmaradana" ini:

    ASMARADANA

    Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun
    Karena angin pada kemuning. Ia den gar resah kuda serta langkah
    Pedati ketika pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah
    Pedati ketika langit bersih menampakkan bima sakti
    Yang jauh. Tapi diantara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata

    Lalu la ucapkan perpisahan itu, kematian itu, ia melihat peta.
    nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tidak semuanya
    disebutkan

    Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi
    pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara,
    ia takkan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba
    karena ia takkan berani lagi.

    Anjasmara, adikku, tinggalah seperti dulu
    bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu
    Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
    Kulupakan wajahmu.
    (Parikesit, 1972).

    Puisi "Asmaradana" (suatu nyanyian tembang Jawa yang mengungkapkan duka hati karena cinta yang terputus) dikisahkan kebimbangan dan kedukaan hati Anjasmara (istri Damar Wulan) setelah Damar Wulan berpamitan akan pergi menunaikan tugas dan Ratu Kencana Ungu untuk berperang dengan Minak Jinggo di Blambangan. Jika Damar Wulan kalah, ia akan mati, berarti Anjasmara kehilangan suaminya. Jika Damar Wulan menang, Anjasmara juga kehilangan suaminya karena suaminya akan menjadi raja dan memperistri Kencana Ungu. Hal inilah yang dijadikan perenungan kehidupan oleh Goenawan Mohammad bahwa "kenaikan pangkat seorang suami belum tentu membawa kebahagiaan".
    Puisi "Perahu Kertas" karya Sapardi Djoko Damono berkaitan dengan kisah Nabi Nuh yang harus menyediakan perahu untuk menyelamatkan keluarganya dan semua binatang yang telah diciptakan Tuhan. lnilah puisinya tersebut:

    PERAHU KERT AS

    Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; airya sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju laman.
    "Ia akan singgah di bandar-bandar besar", kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tidak pernah lepas dari rindumu itu.
    Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya, “Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit".

    Kisah Nabi Nuh digunakan oleh penyair untuk merenungkan kehadiran Nabi Nuh sebagai penyelamat dunia. Tuhan memilih orang-orang tertentu, orang pilihan yang benar-benar orang baik untuk menunaikan tugas mulia penyelamatan itu. Nabi Nuh merasa bahagia karena telah menyelamatkan keluarganya dan para binatang dari banjir besar pemusnahan para pendosa itu.
    Tema pedesaan tentang petani desa yang patriotik dan wanita-wanita desa yang telah berjuang mati-matian menjadi pedagang kecil untuk menghidupi keluarga. Keduanya terjadi di daerah Walikukun. Berikut ini dikutip puisi Piek Ardiyanto Supriyadi yang berjudul “Paman-paman Tani Utun” ini:

    PAMAN-PAMAN TANI UTUN

    buat mingun
    bapaku sendiri
    petani di walikukun
    daerah ngawi
    1
    paman-paman tani utun
    ingatlah
    musim labuh sawah basah
    duailah .

    musim labuh kurang tidur ya paman
    kerja berjemur dalam lumpur tak makan
    sawah-sawah menggempur hancur
    merpatinya wok-wok ketekur.

    cangkul luku garu sabit ya paman
    habis kerja terus ngarit di galangan
    esoknya nyebar bibit
    ya ampun berasnya sangat sulit

    2
    paman-paman tani utun
    ingatlah
    musim hujan kurang nasi
    jangan mencuri

    pegang perut anak bini ya paman
    sore-sore jagung ubi yang dimakan
    besarnya sejari kaki
    esoknya lahir bayi
    malam nembang sigromilir ya paman
    meningkah perut lapar keroncongan
    dini hari kali besar
    rumah-rumah terbongkar
    ……………………………….
    musim panen sudah tiba ya paman
    pesta kerja di tengah sawah kepanasan
    padi digendong minah, dipikuI sardi
    sayangnya tidak dibawa ke lumbung sendiri
    tembang megatruh pengganti beras ya paman
    babis panen padi amblas aduh setan
    Tuhan dewa danghyang di gunung lawu
    inilah lagu merdu petani sendu.
    (Sastra, Th. I No.2, Juni 1961)

    Paman tani yang "utun" (lugu dan rajin bekerja) itu bahagia sekali akan pekerjaannya, terutama jika panen tiba. Namun sayang, bahwa padi hasil panen itu tidak dibawa ke lumbung sendiri karena pak tani tersebut ada yang telah menjual padinya secara "ngijon", ada juga yang menggadaikan sawahnya.
    Puisi Hartoyo Andangjaya berjudul "Perempuan-perempuan Perkasa" berikut ini juga berlatar belakang daerah Walikukun dekat Ngawi:

    PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA

    Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
    dari manakah mereka.
    Ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
    Sebelum peluit kereta api terjaga
    sebelum hari bermula dalam pesta kerja

    Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta,
    ke manakah mereka
    Di atas roda-roda baja mereka berkendara
    Mereka berlomba dengan surya menuju ke gerbong kota
    Merebut hidup dipasar-pasar kota

    Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta.
    siapakah mereka
    akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
    Mereka cinta kasih yang bergerak menghindari desa demi desa
    Hartoyo Andangjaya, 1973.

    2. Nada dan Suasana Puisi
    Di samping tema, puisi mengungkapkan nada dan suasana kejiwaan. dalam puisi itu. Nada mengungkapkan sikap penyair terhadap pembaca dan dari sikap itu terdapatlah suasana puisi itu. Ada puisi yang bernada sinis, nada prates. nada menggurui, nada memberantak, nada main-main, nada serius (sungguh-sungguh), nada gagah nada patriotik nada belas kasih (memelas), nada takut, nada - nada santai, nada masa bodoh nada pesimistis, nada humor (bergurauan), nada mencemooh, nada anggun (kharismatik), nada filosofis. nada khusyuk, dan sebagainya. Dari contoh puisi-puisi di depan dapat ditelaah bagaimana nadanya.
    Nada kagum misalnya dalam puisi "Perempuan-perempuan Perkasa" (Hartoyo Andangjaya) dan '"Diponegoro" (Chairil Anwar). Nada main-main misalnya dalam puisi «Siarin" (Yudhistira Adi Nugroho) dan "Shang HaC' (Sutardji Calzoum Bachri). Nada patriotik misalnya dalam "Kerawang Bekasi" dan "Diponegoro" (Chairil Anwar) dan "Pahlawan Tak Dikenal" (Toto Sudarto Bachtiar) seperti dinyatakan dalam puisi berikut ini:

    PAHLAWAN TAK DIKENAL

    Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
    Tetapi bukan tidur, sayang
    Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
    Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang.

    Dia tidak ingat bilamana dia datang
    Kedua lengannya memeluk senapan
    Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
    Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

    Wajah sunyi setengah tengadah
    Menangkap sepi padang senja
    Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu
    Dia masih sangat muda

    Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
    Orang-orang ingin kembali memandangnya
    Sambil merangkai karangan bunga
    Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalinya

    Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
    Tetapi bukan tidur, sayang
    Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
    Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda
    Suara, 1950
    (Toto Sudarto Bachtiar)

    Toto Sudarto Bachtiar sangat kagum kepada para pahlawan yang gugur dalam pertempuran di Surabaya tanggaI 10 November 1945. Mereka kebanyakan tidak dikenal dan dalam usia yang sangat muda. Karena kagumnya kepada para pahlawan pejuang kemerdekaan itu, maka mereka disebut dengan kata "sayang".
    Nada lain adalah nada protes atau kritik sosial seperti dalam puisi-puisi Rendra- sejak tahun 1967 sampai tahun 2000; puisi-puisi demonstrasi karya Taufiq Ismail, dan puisi-puisi F. Rahardi (di depan disebutkan salah satunya adalah "Sajak Transmigrasi II" dan "Doktorandus Tikus I".
    Nada memuja terdapat dalam puisi "Teratai" (Sanusi Pane) dan "Ode Buat Bung Karno" (Leon Agusta). Puisi "Teratai" adalah sebagai berikut:

    TERATAI

    Kepada Ki Hajar Dewantara

    Dalam kebun di tanah airku
    Tumbuh sekuntum bunga teratai
    Tersembunyi kembang indah permai
    Tiada terlihat orang yang lalu.

    Akarnya tumbuh di hati dunia
    Daun berseri, Laksmi mengarang
    Biarpun dia diabaikan orang
    Seroja kembang gemilang mulia
    Teruslah, O, teratai bahagia
    Berseri di kebun Indonesia
    Biar sedikit penjaga mulia
    Biarpun engkau tidak dilihat,
    Biarpun engkau tidak diminat
    Engkau turut menjaga zaman.
    Sanusi Pane, 1957.

    Puisi ini memuja Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh yang pantas untuk diteladani. ia dibandingkan dengan bunga teratai yang tidak menonjolkan diri namun namanya termasyur di seluruh penjuru dunia. Kekaguman penyair kepada Ki Hajar Dewantara lebih nyata dengan baris terakhir "Engkau turut menjaga zaman".
    Nada pasrah dapat kita jumpai dalam puisi "Asmaradana" (Goenawan Mohammad) dan "Derai-derai Cemara" (Chairil Anwar).

    DERA-DERAI CEMARA

    Cemara menderai sampai jauh
    Hari terasa akan jadi malam
    Ada beberapa dahan ditingkap merapuh
    Dipukul angin yang terpendam.

    Aku orangnya bisa tahan
    Sudah lama bukan kanak lagi Tapi ada suatu bahan
    Yang bukan dasar perhitungan kini.
    Hidup hanya menunda kekalahan
    Tambah terasing dari sekolah rendah
    Tapi memang ada yang belum dikatakan
    Sebelum pada akhirnya kita menyerah
    (Chairil Anwar, 1949).

    Penyakit yang menggerogoti tubuh Chairil Anwar sehingga ia menyadari bahwa kematian akan datang padanya. Hidupnya dihantam oleh penyakit yang tersembunyi dalam tubuhnya ("merapuh /dipukul angin yang terpendam”). Ia pasrah bahwa dalam kematiannya ada yang “belum diucapkan”. Karena itu kematian disebutkan sebagai “kekalahan” yang selalu “ditunda”.
    Puisi-puisi religius memiliki nada khusyuk seperti dalam puisi “doa” (charily Anwar), "Padamu Jua" (Amir Hamzah), dan "Senandung Natal" (Soeparwoto Wiraatrnadja).

    3. Perasaan dalam Puisi
    Puisi mengungkapkan perasaan penyair. Nada dan perasaan penyair akan benar-benar dapat kita dengarkan kalau puisi itu dibaca secara keras dalam "Poetry reading" atau deklamasi. Jika kita membaca dengan diam sebuah puisi, kita harus menafsirkan apa perasaan penyair yang mendasari puisinya itu.
    Perasaan yang menjiwai puisi dapat gembira, sedih, terharu, terasing, tersinggung. patah hati. sedih yang mendalam sombong: tercekam. cemburu. kesepian. takut dan menyesal
    Perasaan sedih yang mendalam diungkapkan oleh Chairil Anwar dalam "Senja. di Pelabuhan Kecil", YE. Tatengkeng dalam "Anakku", Agnes Sri Hartini dalam "Selamat Jalan Anakku", dan Rendra dalam "Orang-orang Rangkas Bitung".
    Perasaan terharu terhadap suatu hal atau peristiwa kita dapati dalam "Gadis Peminta-minta" (Toto Sudarto Bachtiar), "Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya" dan "Karangan Bunga" (Taufiq Ismail), dan 'Tari Seorang Guru Kepada Muridnya" (Hartoyo Andangjaya).

    4. Amanat Puisi
    Amanat atau pesan atau nasihat adalah akibat yang timbul pada diri pembaca setelah membaca puisi. Amanat dirumuskan sendiri oleh pembaca. Sikap dan pendengar pembaca sangat berpengaruh kepada amanat puisi. Cara pembaca menyimpulkan amanat puisi sangat erat kaitannya dengan cara pandang pembaca terhadap sesuatu hal. Meskipun didasarkan atas cara pandang pembaca namun amanat tidak dapat lepas dari tema dan isi dari puisi yang ditelaah.
    Puisi “doa” karya Chairil Anwar, dapat mengandung bermacam-macam amanat, misalnya:
    a. Setelah merasa hidupnya salah, hendaknya kita kembali ke jalan Tuhan
    b. Tuhan selalu menerima diri manusia yang bertobat.
    c. Tobat adalah jalan menuju kebaikan
    d. Jangan menutup diri terhadap ampunan Tuhan sebab hanya dengan ampunan-Nya, hidup kita menjadi lebih baik.
    Puisi Hartoyo Andangjaya yang berjudul "Dari Seorang Guru Kepada Murid-muridnya" berikut ini menampilkan kemiskinan kehidupan seorang guru. Keceriaannya di kelas tidak tergambar di rumahnya yang miskin dengan "Jendela-jendela yang tak pernah digantikainnya, tentang “kursi-kursi tua”, dan tentang "meja tulis sederhana" yang tidak pernah diceritakan oleh guru itu di depan kelas.



    DARI SEORANG GURU KEP ADA MURID-MURlDNYA

    Adakah yang kupunya ariak-anakku
    selain buku-buku dan sedikit ilmu
    sumber pengabdianku kepadamu

    Kalau hari Minggu engkau datang ke rumahku
    aku takut anak-anakku
    kursi-kursi tua yang di sana
    dan meja tulis sederhana

    dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
    semua kepadamu akan becerita
    tentang hidupku di rumah tangga

    Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita
    depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
    horison yang selalu bim bagiku
    karena kutahu anak-anakku
    engkau terlalu muda
    engkau telalu bersih dari dosa
    untuk mengenal ini semua
    (Hartoyo Andangjaya, 1982)

    tema puisi ini adalah kritik sosial terhadap situasi pemerintahan yang tidak memperhatikan nasib kehidupan guru (Sebelum tahun 1970-an). Puisi ini dapat menghasilkan amanat-amanat sebagai berikut:
    1. Perbaikilah nasib guru
    2. Hormatilah gurumu sebab walaupun hidupnya menderita, mereka
    3. Tetap berbakti dengan penuh semangat.
    4. Muliakanlah gurumu sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
    5. Jika melihat guru, jangan dilihat harta benda dan kekayaannya, tetapi keluhuran martabatnya.
    Puisi Toto Sudarto Bachtiar berjudul "Pahlawan Tak Dikenal" berikut ini memiliki tema kepahlawanan atau patriotisme. Coba kita baca lagi puisi berikut ini:

    PAHLAWAN TAK DIKENAL

    Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
    Tetapi bukan tidur, sayang
    Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
    Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang.

    Dia tidak ingat bilamana dia datang
    Kedua lengannya memeluk senapan
    Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
    Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

    Wajah sunyi setengah tengadah
    Menangkap sepi pandang senja
    Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu
    Dia masih sangat muda

    Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
    Orang-orang ingin kembali memandangnya
    Sambil merangkai karangan bunga
    Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalinya

    Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
    Tetapi bukan tidur, sayang
    Sebuah Lubang peluru bundar di dadanya
    Senyum bekunya mau berkata aku sangat muda
    (Toto Sudarto Bachtiar, Suara, Jakarta: Balai Pustaka, 1977)

    Puisi tersebut mengingkatkan berbagai amanat, antara lain:
    1. Pahlawan sejati adalah pahlawan tak meningalkan jasa tanpa menonjolkan diri
    2. perang kemerdekaan 10november di Surabaya melahirkan pahlawan-pahlawan tak dikenal alam usia muda yang pantas kita teladani
    3. pahlawan muda itu rela mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan, karena itu kita harus mengisi kemerdekaan ini
    4. Hargailah para pahlawan tak dikenal yang mati muda dengan menyerukan perjuangannya


    DAFTAR PUSTAKA

    Gani, Rizanur. Pengajaran Apresiasi Puisi, Jakarta: P3G Depdikbud, 1981
    Joni, T Raka. Statraegi Belajar Mengajar. Jakarta:P3G. Depdikbud. 1979
    Wardani, I.G.A.K. Pengajaran Sastra, Jakarta: P3G Depdikbud, 1981

    DAFTAR ISI

    KATA PENGANTAR i
    DAFTAR ISI ii
    MEMAHAMI PUISI 1
    A. Ciri-Ciri Kebebasan Puisi 1
    1. Pemadatan Bahasa 1
    2. Pemilihan kata khas 2
    3. Kata konkret 7
    4. Pengimajinasian 8
    5. Irama (ritme) 10
    6. Tata wajah 11
    B. Hal yang diungkapkan penyair 14
    1. Tema puisi 14
    2. Nada-nada susunan puisi 34
    3. Perasaan dalam puisi 36
    4. Amanat puisi 37
    DAFTAR PUSTAKA


    DOWNLOAD FILE MEMAHAMI PUISI FORMAT MS. WORD LENGKAP JADI GA USAH EDIT LAGI. Download.

    1 comment:

    1. EM,,, YA SANGAT SETUJU,,, DAN SAYA PERLU BELAJAR LAGI,,, UNTUK MEMAHAMI PUISI-PUISI

      ReplyDelete

    Silakan berkomentar di anakciremai.com, Maaf Jika komentar anda berbau spam akan saya hapus.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    7