FROM HERO TO ZERO (FH²Z) MAJALAH ONLINE

Merasa memiliki bisa memunculkan rasa takut kehilangan, dan rasa tersebutlah yang akhirnya menjadi penyebab tidak tenangnya sang jiwa ;
segala apa yang ada di sekelilingnya, yang dia anggap sebagai miliknya, hanya akan menjadi ‘Pupuk’ yang membuat tumbuh kembangnya ‘Rasa Takut Kehilangan’ yang semakin tinggi.

Sukses Sejati adalah disaat kita bisa mencapai ketenangan dalam hidup. Dan ketenangan bisa diraih dengan men-ZERO-kan diri.

Dalam umumnya bisnis jejaring atau dalam umumnya kehidupan, kalimat yang sering dipakai adalah “From Zero To Hero” yang maknanya bisa saja “Dari tidak punya apa-apa menjadi segala punya”; ukuran sukses adalah “Kebendaan” atau materialisme. Dan secara umum ukuran sukses tersebut adalah memang “Kebendaan”. Tentu saja hal tersebut tidak benar dan banyak bukti orang yang sudah serba berlimpah kebendaannya ternyata malah bunuh diri. Dikelilingi oleh harta berlimpah hasil usaha halal tentu saja tidak salah, tapi yang paling penting kita menyadari bahwa semua itu adalah titipan. Kesadaran itulah yang mahal, harus ditebus melalui proses panjang dalam kehidupan dengan caranya masing-masing dan unik dari satu individu ke individu yang lain. Sulit? Pasti, tapi itulah pembelajaran yang mau tidak mau harus dilewati oleh setiap individu.
Keilmuan, keterampilan dan segala potensi yang ada pada setiap individu adalah titipan yang harus kita pelihara dengan cara share atau berbagi kepada orang lain. Hanya dengan cara seperti itu kehidupan bisa lestari dan berkembang.

Memang segalanya secara syariat itu adalah hasil usaha dan kerja kita, tapi pada hakekatnya 'keakuan' itu sama saja menihilkan Tuhan dalam kadar tertentu. Dan hal ini menyebabkan tersiksanya jiwa. Jika kita merasa hebat dan ingin menerima pengakuan dari orang lain bahwa kita hebat, tapi pengakuan itu tidak juga sampai di telinga kita, maka bisa jadi kita akan menerima kekecewaan. Secara manusiawi, ingin menerima pengakuan dari orang lain sering kali dikatakan sebagai sesuatu yang wajar, bahkan dianggap sebagai kebutuhan. Pemikiran tersebut buat orang-orang tertentu bisa jadi merupakan bagian dari proses perjalanan, tapi buat yang lainnya bisa jadi merupakan akhir dari perjalanan, dan berhenti di situ. Akhir perjalanan yang sesungguhnya adalah sebetulnya hanya satu, kembali kepadaNya. Semua yang ada pada diri kita adalah titipan yang akan menuai manfaat kalau disalurkan kepada orang lain sesuai dengan ketentuan yang ada. Kenapa kita dititipi pengetahuan lebih banyak, kemampuan lebih banyak, rezeki lebih banyak, informasi lebih banyak? Tuhan mempercayakan kepada kita sebagai perantara untuk menyalurkannya kepada orang lain, atau Tuhan sedang menguji kita, menggelitik dan membangkitkan kesadaran kita ; semua itu akan diakui sebagai milik kita, atau sebagai titipan ? segala apa yang ada disekeliling kita, di luar dan di dalam diri kita hanya merupakan fasilitas untuk mengantarkan kita kepada kesuksesan, yaitu sampai pada kondisi 'zero'.

Related Posts by Categories



0 comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar di anakciremai.com, Maaf Jika komentar anda berbau spam akan saya hapus.